Sabtu, 11 Mei 2013

Viva Milk Cleanser dan Face Tonic Green Tea


Halo!

Sekarang aku mau review tentang salah satu (atau dua?) produk skincare lokal Indonesia yang murah meriah tapi punya kinerja yang cukup oke, yaitu Viva Milk cleanser dan Face tonic varian green tea. Ini produk Viva pertamaku sekaligus produk pembersih muka non-instant pertamaku. Sebelumnya, aku Cuma pakai Facial Wash nya Pond’s White Beauty Naturals warna hijau. tapi berhubung mukaku break out pasca pemakaian pelembab Sariayu (mungkin karena tipe wajahku yang normal to oily yang bikin aku nggak cocok sama produk ini), aku mulai ngelirik sana-sini tentang pembersih muka untuk wajah berjerawat dan pilihanku pun jatuh pada dua produk dari brand lokal ini. So here we go!


Viva Milk Cleanser Green Tea

Susu pembersih ini mengandung Ekstrak Green tea untuk kulit berjerawat dan Tea Tree oil sebagai anti oksidan.

Aku beli produk ini di Swalayan dekat rumah dengan harga Rp. 4500,00 dengan netto 100ml. Muraaah..
sampai rumah aku langsung coba pakai produk ini. Cara pakainya adalah dengan dioleskan pada wajah dan leher, message ringan, lalu diangkat dengan tissue/kapas. Setelah itu bersihkan dengan Face tonic. Teksturnya aku suka, nggak terlalu kental tapi juga nggak terlalu cair, warnanya kehijauan dan baunya soft banget (mungkin karena produk ini non-akohol). Habis pakai ini rasanya wajah jadi kenyal dan lembut. Oh iya, produk ini bisa dipakai sebelum make up dan sebelum tidur.

Ingredients : Camellia Sinensis Leaf Extract, Tea Tree Oil (Melaleuca alternifolia), Mineral oil, Stearic Acid, Cetyl Alcohol, Butylated Hydroxytoluene, propyl paraben, methyl paraben, 2-bromo-2-nitropropane-1, 3-diol, triethanolamine, Cl. 19140, perfume, aqua. 


Viva Face Tonic Green Tea 

Lotion Penyegar ini mengandung Ekstrak Green tea untuk kulit berjerawat dan Tea Tree oil sebagai anti oksidan.

Sama seperti milk cleanser nya, Tonernya juga bersahabat dengan dompet, Cuma Rp. 4200,00 ;)
Produk ini dipakai setelah kita meng-apply milk cleanser di wajah. Caranya dengan dituangkan secukupnya di tissue/kapas lalu diusapkan ke wajah. fungsinya untuk membersihkan sisa-sisa milk cleanser dan menyegarkan kulit. Dan benar saja, setelah aku pakai ini, kulit rasanya jadi adem dan sisa-sisa milk cleanser pun hilang. Sama sekali nggak bikin iritasi dan baunya pun nggak menyengat, mungkin karena non alcohol.

Ingredients : Camellia Sinensis Leaf Extract, Tea Tree Oil (Melaleuca alternifolia), Propylene Glycol, Allantoin, Witch Hazel Distillate, Acidum Tartaricum,  Methyl paraben, PEG 40 Hydrogenated Castor Oil, Cl. 19140, Cl. 42090, perfume, aqua.
Overall, aku suka produk-produk ini. Efek menghilangkan jerawatnya sih belum kelihatan karena mungkin aku baru beberapa kali pemakaian, tapi so far belum ada jerawat baru yang muncul (yang biasanya terjadi akibat dari ketidak cocokan produk dengan kulit). Semoga aja kulitku bisa kompakan sama produk ini dan jerawat-jerawat mengganggu bisa hilang :) 

(+) Kelebihan :
·        Harganya murah
·        Tidak mengandung alkohol (cocok buat kulit sensitif)
·        Tidak menyebabkan iritasi
·        Tidak membuat kulit jadi berminyak ataupun kering kerontang
·        Membuat kulit menjadi lebih lembab
·        Wanginya soft dan tidak disturbing

(-) Kekurangan :
·        Sejauh ini jerawat belum berkurang
·        Kemasannya kurang cantik (yang ini relatif ya hehe)
·        Tidak membuat wajah langsung ‘cling’ setelah pekaian (tidak seperti efek instant setelah pemakaian Facial Wash)

Repurchase : maybe yes, tergantung apakah produk ini nantinya benar-benar bisa menghilangkan jerawatku ;)

Kamis, 04 April 2013

Pengagum Rahasia



Siang ini matahari bersinar begitu terik. Menyengat siapa saja yang menantang dibawahnya. Arogan? Ya. Tapi tanyalah siapa yang lebih arogan. Jawabnya kau.


Kau, dengan baju olahraga mu yang berpeluh keringat dan celana abu-abumu yang membungkus dua tungkai lincah. Sibuk berlarian kesana kemari. Menendang, meloncat, mengejar. Kau dan teman-teman lelakimu. Dan sebuah bola yang kalian rebut mati-matian.

Ah, kalau begini, rasanya aku ingin menyamar sebagai bola saja.
Aku, dengan kemeja putih dan rok panjang abu-abu duduk di pinggir lapangan. Di atas sebuah beton bercat hijau yang difungsikan sebagai kursi permanen. Di bawah rindang ketapang yang sedikit banyak melindungiku dari sergapan matahari. Aku dan teman-temanku. Mereka sedang mengoceh seru, entah apa topik yang sedang digaungkan. Mungkin tentang anak baru di kelas sosial yang ketampanannya sempat bikin geger di awal tahun ajaran itu. Entahlah. Sesekali, aku menimpali mereka dengan anggukan dan tawa hambar, tapi ekor mataku tak pernah lepas dari sosokmu disana. Kamu dan pesonamu.

“kamu lihat apa sih?” tanya seorang teman yang menyadari aku yang mencuri-curi pandang kearah lapangan.

Belum sempat aku menjawab, dia sudah menyambar lagi, “ooh, dia?”
temanku memutar badannya untuk menengok siapapun yang dia maksud. Dan aku, dengan seluruh perhatianku terpusat padamu.

“memang tampan sekali ya. Aku heran kenapa anak Medan itu tidak punya pacar sama sekali. Padahal banyak sekali yang bersedia. Aku contohnya. Dan kamu, barangkali.”

Aku terkekeh geli tanpa bersedia memberi komentar. Aku takut kalau temanku tahu bahwa kami tidak berada dibawah payung yang sama. Bahwa topik yang kami bicarakan masing-masing tidak berada di satu persimpangan. Aku tidak sedang membicarakan si anak Medan. Aku sedang membicarakan kamu.

“Padahal dia populer sekali ya..” timpal temanku yang lain.

Aku tertegun. Kau yang sedang kubicarakan juga populer. Saking populernya, kurasa aku bagimu adalah seperti titik embun di pagi terlambat yang hampir terik. Saat warna putih pekatnya sudah terlalu samar untuk bisa disebut embun, sehingga matahari dan pagi pun tak sadar bahwa ia sempat mampir. Persis.
Aku ingat beberapa kali kita pernah berpapasan. Kebetulan-kebetulan tidak sengaja yang kuanggap sebagai hadiah. Pertemuan di persimpangan tangga, koridor, lapangan, parkiran, acara sekolah..

Mungkin, bagi sebagian yang lain, ini hal sepele yang mudah dilupakan. Misalnya oleh kamu. Terutama kamu. Mungkin, sebagian yang lain akan berpikir ini hal remeh yang sering terjadi pada siapa saja. Bukan kebetulan yang patut diistimewakan. Bukan kejadian yang patut diingatkan.

Tapi sayangnya, hal seperti itu tidak berlaku di otakku. Aku suka hal-hal kecil dan kurang tertarik pada hal-hal besar. Aku mengingat hal-hal sederhana dan kurang terkesan hal-hal luar biasa. Mungkin, itu juga sebabnya mengapa pertemuan-pertemuan kecil kita terasa istimewa. Setidaknya, olehku.

“sayang sekali, permainan mereka sudah usai.”

Ah, gara-gara memikirkanmu, aku jadi melewatkan sepenggal momen nyata.
Aku mengangkat wajah. Menoleh kepada kamu yang bergerak meninggalkan lapangan. Rambutmu basah, dan sinar matahari membuatnya sempurna.
Jangan menoleh.. jangan menoleh.. biarkan aku menikmati pemandangan ini lebih lama.. biarkan aku menyimpan memori ini lebih la--
Aku cepat-cepat menundukkan wajah. Semburat merah jambu menjalar di pipi. Tersipu. Malu.Kaukah itu, yang sekejap tadi menatap bola mataku? Manik mata kaukah itu, yang sepandang tadi menghantam bayangku? Benar, itu kau. Milikmu.

aku menahan napas. Bahkan untuk sekedar bertatap pandang saja aku tak mampu..


nb : Tulisan ini aku dedikasikan kepada sahabatku, Pradita Amelia. Semoga ini memang kamu ya :)

Jumat, 11 Januari 2013

skut


Sebenernya ini postingan lanjutan dari postingan gue sebelumnya yang tentang lagunya taylor swift. Yak, tentang malam gue yang super bambung itu (sebenernya sih banyak tugas dan lalala, Cuma gue males aja). Jadi gue baca-baca goodreads aja buat bahan pertimbangan novel must-read atau must-have. Di salah satu review, gue liat ada orang yang disappointed berat sama sebuah novel yang ia beli karangan seorang selebtwit (so pasti heboh di twitter). Si cowok ini (red: the reviewer) bikin kesimpulan kalau jangan langsung percaya omong kosong di twitter yang suka lebay.

dan entah kenapa, gue juga jadi kepikiran buat nulis tentang salah satu novel “mengecewakan” di rak buku gue.

Okay, malam ini gue niat mau ngomongin SKUT (Surat Kecil Untuk Tuhan).



Yang penggemar beratnya cerita ini, silahkan angkat kaki dari blog ini.
ah, gue bercanda. Hehehe

tapi seriously, mungkin tulisan ini akan sedikit-banyak mengecewakan.

Jadi, gue beli ini novel udah dari jaman kapan tau. Gue beli pas filmnya masih baru tayang di bioskop. Gue tipe orang yang lebih suka baca bukunya dulu baru nonton filmnya (in case, film-film yang based-on-novel), misalnya Harry Potter, Twilight, negeri 5 menara, laskar pelangi, dll. So, gue belilah buku SKUT. (Toh dari semua orang, gue tau si keke bakalan KO di ending)

Gue liat sampulnya emang nggak cantik-cantik amat, gue beli yang edisi revisi gambar cewek botak meluk om-om (keke hugs his father). Covernya as white as snow dan ada embel-embel semacam iklan Chocolatos (yang bikin sampulnya keliatan creepy banget), dan kata-kata semacam “best seller! Telah dibaca lebih dari blablabla”. Yang jelas, kata-katanya meyakinkan banget dan sukses bikin ekspektasi gue melayang-layang di kahyangan.

Oke, gue baca.

Dari baca bab pembuka, gue udah nggak suka.
pertama, gue nggak suka lantaran bahasanya yang baku dan kaku. Dan entah kenapa, di awal cerita, gue ngerasa si Keke ini sosok Drama queen (plis, jangan tabok gue).
gue tau gue mulai terdengar menyebalkan. Yang mau close tab, silahkan close tab :’)

Tapi gue tetep harus lanjutt!

Selain gaya penulisannya yang kurang greget, alasan kedua adalah dialognya yang nggak oke.
terutama dialog antara andi dengan si keke yang.. aduh, gimana ya? Gue bingung jelasinnya. 
Gue kasih contoh percakapan garing aja, ya:

Rama : “Sinta sayang, Rama nggak suka kalau Sinta makan permen.”
Sinta : “huhu Rama jahat, Sinta mau putusin Rama aja.”

Gue lebih prefer yang :

Rama : “sayang, aku nggak suka kalau kamu makan permen.”
Sinta : “huhu kamu jahat. Aku mau putusin kamu aja.”

Got it?

Intinya, di bab kedua, gue mulai bosan. Gue sempat berpikir untuk menghentikan baca bukunya dan menerima tawaran temen gue untuk nonton SKUT bareng. Tapi gue tetap mencoba bertahan.

Di salah satu bagian, gue sempet ngerasa sesek di dada. Itu yang jelas pas adegan Ayah-Anak yang mengharukan. Gue mulai ngerasa novel ini worth-to-read. Gue lanjutin.

Berhenti di pertengahan novel dan gue belum menemukan sesuatu yang interesting lagi, terlalu flat. I Gave up. Gue letakkin buku ini dan nggak gue buka-buka lagi. Gue menolak semua tawaran nonton ini di bioskop. Bahkan sampai filmya tayang di layar kaca, gue Cuma nonton narasi awal aja.

Satu pelajaran yang gue ambil, “kalau mau hunting novel, lebih baik buka-buka goodreads dulu.” 
Agak nggak nyambung. Tapi gue serius.

Overall, gue kasih bintang 2. Selamat yah filmnya sukses besar! :DBuat dari segi cerita, novel ini memang termasuk novel sedih. Gue juga suka banget sama ide cerita yang based on true story ini, tapi yang disayangkan adalah gaya penulisan sang penulis. Menurut gue, cerita ini bagus hanya saja kurang digali secara mendalam dan.. yah, intinya, novel ini belum maksimal. #sosorrytosaythat

Untuk penulis atau siapapun yang terlibat dalam SKUT (real life-novel-movie), gue minta maaf yang sebesar-besarnya. Bukan maksud hati ingin menjatuhkan nama baik, honestly. Tentunya penilaian setiap orang terhadap suatu karya seseorang memang berbeda-beda kan? :)

Maaf dan terimakasih.


Wassalam.

Back to December


Ini malam yang bambung. 

Yeah, sebenarnya sih nggak juga. 
Dari awal gue udah planning kalo malam ini gue mau latihan nyanyi. Bukan, bukan karena gue mau manggung di inbox besok pagi, gue Cuma mau latihan buat ambil nilai praktek seni budaya besok pagi. Dan malam ini gue baru mau hafalin lagunya (baru mau hafalin!). gue pilih lagunya Taylor Swift yang buat Taylor Lautner itu tuh, pada tahu kan?



pertanyaannya, kenapa gue nggak hafal-hafal dan kenapa gue nggak milih lagu yang gue hafal aja?

hmm, dulu gue malesbangetdotcom kalo denger lagunya si blonde satu ini karena nadanya yang begitu mainstream dan suaranya yang just-so-so, gue cuman suka cakepnya (she’s so damn beautiful!) dan video clipnya—yang ngomong-ngomong modelnya ganteng-ganteng. that’s it. Tapi itu duluu. Dulu banget sebelum gue bener-bener dengerin lagunya dan perhatiin liriknya yang ternyata uh-so-touching itu.

Astaga, dan kenapa juga gue jadi ikut-ikutan excited pas temen gue ngomongin Taylor Swift? Oke, gue rela kok jadi swifties.

Dan, untuk menjawab pertanyaan sebelumnya.
Kenapa gue nggak milih lagu yang hafal aja?

yak, jawabannya karena gue mendadak jatuh cinta sama lagu ini pas iseng-iseng dengerin kemarin sore (soalnya dari jaman batu, temen-temen gue banyak yang ngotot ini salah satu lagu paling kerennya Swift), dan setelah gue ulang untuk keberapa kalinya secara intens sambil merhatiin liriknya, I just thought, “buset, ini lagu dalem amat.” Bittersweet. Dan gue secara spontan ngotot mau nyanyi lagu ini aja buat ambil nilai (sebenarnya gue pengen nyanyi lagu barunya One Direction “kiss you” tapi pasti bakalan garing banget kalo nggak pake alat musik—dan temen-temen gue gak ada yang tau chord gitar buat lagu yang masih tergolong baru banget itu).

Well, sebenarnya dalam postingan ini, gue lagi nggak pengen bahas lagu Taylor swift ini. Tapi mau apa lagi, udah terlanjur gini -_-

Yaudin ini lirik lagunya.
check it out.

"Back To December"

I'm so glad you made time to see me.
How's life? Tell me how's your family.
I haven't seen them in a while.
You've been good, busier than ever,
We small talk, work and the weather,
Your guard is up and I know why.
Because the last time you saw me
Is still burned in the back of your mind.
You gave me roses and I left them there to die.

So this is me swallowing my pride,
Standing in front of you saying, "I'm sorry for that night,"
And I go back to December all the time.
It turns out freedom ain't nothing but missing you.
Wishing I'd realized what I had when you were mine.
I'd go back to December, turn around and make it all right.
I go back to December all the time.

These days I haven't been sleeping,
Staying up, playing back myself leavin'.
When your birthday passed and I didn't call.
And I think about summer, all the beautiful times,
I watched you laughing from the passenger side.
Realized that I loved you in the fall.

And then the cold came, the dark days when fear crept into my mind
You gave me all your love and all I gave you was "Goodbye".

So this is me swallowing my pride
Standing in front of you saying, "I'm sorry for that night."
And I go back to December all the time.
It turns out freedom ain't nothing but missing you,
Wishing I'd realized what I had when you were mine.
I'd go back to December, turn around and change my own mind
I go back to December all the time.

I miss your tanned skin, your sweet smile,
So good to me, so right
And how you held me in your arms that September night --
The first time you ever saw me cry.

Maybe this is wishful thinking,
Probably mindless dreaming,
But if we loved again, I swear I'd love you right.

I'd go back in time and change it but I can't.
So if the chain is on your door I understand.

But this is me swallowing my pride
Standing in front of you saying, "I'm sorry for that night."
And I go back to December...
It turns out freedom ain't nothing but missing you,
Wishing I'd realize what I had when you were mine.
I'd go back to December, turn around and make it all right.
I'd go back to December, turn around and change my own mind

I go back to December all the time.
All the time.

Kamis, 03 Januari 2013

back to school arrgh..


Oke, pertama-tama gue ehem-ehem dulu. Yeah, ini post pertama gue di 2013. Agak telat, tapi.. Happy new year anyway.

Tidak seperti postingan tahun baru pada umumnya yang ngomongin resolusi, acara tahun baru, and the other such thing.

Gue lagi bĂȘte ini.
Pertama, karena gue salah potong rambut. Alhasil, rambut gue yang bagusnya gila-gilaan (iya, saking bagusnya kayak orang gila), lurus pasrah tanpa smoothing, yah pokoknya rambut yang bisa terbang-terbang kalo dikibas dan langsung rapi hanya dengan “Cuma disisir jari kok”, sekarang jadi jemba membahana.
Oke, gue bohong soal rambut awal gue yang dahsyat itu. Tapi gue serius tentang rambut gue yang langsung jemba berkat haircut yang nggak banget.

baikla, mari lupakan rambut gue yang sengak itu.
pindah ke topik lain.

Kedua, holiday is over. Arrghh. What a terrible—especially for me.

emang sih selama liburan, gue Cuma ngetem dirumah. Sambil selonjoran baca novel, nonton transTV sampe mata gue merah (ngomong-ngomong film liburannya emang paling top, terakhir gue nonton ASTROBOY tadi pagi sampe mata gue ileran—gue emang suka nangis sendiri kalo nonton kartun keren), nonton drama korea sampe gue hidung gue menitikkan air mata terus diketawai adek-adek gue, dan yang paling mutakhir adalah ongkang-angking kaki di Mall.

Sama sekali nggak berkesan. Totally.

Somehow gue tetap mengharamkan masuk sekolah tanggal 2 januari. It was Wednesday, tapi rasanya kayak Sunday. Itu sama aja kayak makan citato rasa kaos kaki. Yeah, emang separah itu.
oleh karenanya, gue memutuskan untuk tidak masuk.
pikiran gue, “halah palingan useless juga ke sekolah, anak-anak masih banyak yg belum pulang liburan, terus guru-gurunya juga masih pemanasan.”
jadi gue pun nggak masuk.

Besoknya—hari ini.

pagi-pagi buta gue buka twitter, tampaknya banyak juga yang udah mulai masuk sekolah. So, setelah spamming nanya-nanya di timeline “heh, sekolah gak hari ini?” dan mendapat beberapa koresponden yang menyatakan tidak masuk, gue memutuskan untuk nggak masuk juga. Lagian—hey, gue kan sekretarisnya. Mau apa lo?

Gue ngetweet, “oke, saya memutuskan untuk tidak masuk sekolah hari ini.”

Eh eh terus beberapa temen gue ada yang langsung replay tweet gue. Mereka mempersoalkan tugas kelompok Biologi yang konon bakal dipresentasiin hari ini. Uh-oh, gue lupa sama sekali ada biologi hari ini. Mereka maksa gue masuk demi kepentingan kelompok. Tapi matahari sudah mulai meninggi dan gue belum mandi—gue bakal telat ke sekolah, lagian juga setelah tweet gue diatas, gue nggak bisa dong tiba-tiba ngetweet lagi “sorry, I take it back. hehe” pake emot cengengesan. Emang gue cewek apaan. Gue bukan orang yang suka menarik kembali perkataan yang sudah dilontarkan. Gue kan nggak suka jilat ludah sendiri, emangnya gue kucing? Crap.

So, gue replay mention temen-temen gue dengan sangat bijaksana, “guys, kita kelompok 4. Biologi Cuma sejam hari ini. Kita nggak bakal maju hari ini. Trust me.”
tampaknya temen-temen gue cukup tenang. Mereka percaya aja sama gue berhubung gue adalah siswi-yang-cukup-berdedikasi-dan-sekretaris-andalan. Tapi tiba-tiba temen gue dari kelompok lain nyolot, “itu kan Cuma kelompok materi, sedangkan majunya berdasarkan undian. Kalian kelompok 4, tapi siapa tau nanti maju yang pertama.” rasanya gue pengen nyolok pake lidi tweet temen gue barusan, tapi berhubung itu tidak akan berdampak langsung dan hanya akan bikin screen gue tergores, gue memutuskan untuk tetap bersabar dan tawakal.
But still, berhubung gue takut tweet itu bakal berefek pada temen-temen kelompok gue dan alhasil mereka bakal balik maksa gue buat sekolah, gue nggak berani buka box mention dan gue cuek aja pura-pura udah exit. Gue buka timeline gue dan hapus beberapa tweet gue yang isinya eh-kamu-masuk-sekolah-hari-ini-? , bukannya apa, gue Cuma nggak suka aja baca timeline yang isinya tweet yang diduplicate berkali-kali (it’s like “justin bieber please  follback me. I love you. #1001”), dan itu pun berlaku juga untuk gue sendiri. Gue mau isi timeline gue hanya berisi hal-hal yang worth-to-read seperti, “guys, gue lagi makan maicih” or “maicih ternyata spicy juga ya guys” or “huhu gue nginap semalaman nih di toilet gara-gara maicih. Please culik gue” or “finally gue cebok juga. Kalo lo mau, ambil oleh-olehnya di kloset. For free”

Intinya, gue leha-leha di kamar sambil pelajarin materi presentasi biologi gue beserta lampiran-lampiran sumber datanya yang udah gue print. Gue bertekad bakal all out dan tampil mempesona nati pas tampil (tampil?)—semacam polwan-polwan cantik yang sering bacain berita lalu lintas di metroTV.
Yeah, meskipun gue malas masuk sekolah, bukan berarti gue bakal ngebiarin diri gue jadi bego beneran dan otak gue jadi berkarat lalu mulai mengeluarkan lengkingan seperti kaleng coca cola yang tergores—saking lamanya nggak dipakai.

trus hape gue bunyi, ada sms masuk dari temen gue yang bilang kalo :
Pak Nafik muji-muji hasil tugas wedding invitation gue didepan anak-anak. Ah, so sweet.
Pak Nafik bilang yang nggak masuk hari ini, nilainya bakal dikurangin 10!! What the h..?
Pak Nafik nyari-nyari gue dan menemukan bahwa gue—her favorite—nggak masuk! Bloodyhellbhvjdbvhcrapdhagshitbkpdamnhafjdyfuckhjagsdbkholycow.

Huaaa kalo gini caranya, gue jadi malu ketemu sama Pak Nafik di sekolah :’(


Ps: Oh ya, btw kalo ada yang penasaran sama konsep dan desain wedding invitation gue, gue bakalan posting itu kapan-kapan, semoga bisa menjadi inspirasi :)

Jumat, 21 Desember 2012

21-12-12 : Antara Kiamat dan Bagi Rapot


Setelah terbukti kalau ramalan suku maya bahwa tanggal 12-12-12 adalah akhir dari dunia—yang muncul isu baru yang tidak kalah mendebarkan, bahwa tanggal 21-12-12 akan terjadi kegelapan total di Bumi selama tiga hari! Dan beberapa berpendapat bahwa pada tanggal itulah kiamat sebenarnya terjadi.

Well, beberapa hari yang lalu saat isu tersebut masih santer diperdengarkan, gue bukannya sok mau bilang kalau gue nggak khawatir sama sekali mentang-mentang tanggal segitu udah lewat and nothing happened, tapi faktanya gue emang nggak gitu-gitu amat sampe ngerasa kalau hal itu emang patut di super-khawatirkan. Maksud gue, yeah, walaupun yang bilang kalau tanggal 21-12-12 bakal terjadi gerhana matahari yang membuat kegelapan total di bumi emang bukan orang sembarangan alias memang orang yang ahli di bidangnya, gue tetep ngerasa kalau masih ada hal yang lebih penting yang patut dicemaskan diatas segala-galanya—rapot misalnya.

Ya, rapot.

Buat pelajar yang ngerasa-tidak-cukup-pintar-dan-sangat-khawatir-dengan-hasil-rapotnya, gue tahu lima huruf tersebut udah sudah cukup horror untuk diperdengarkan. Contoh keparnoan beberapa pelajar adalah dengan memutuskan untuk menyerahkan hak mengambil rapot kepada selain kedua orang tuanya (bukan berarti gue menjudge kalau semua murid yang diambilin rapotnya sama orang lain adalah pelajar yang-gue-jelaskan-dengan-banyak-garis-garis-seperti-ini-ya!)

Semalam, saat gue lagi di puncak kecemasan menghadapi hari H, tiba-tiba temen gue yang H-1 masuk sekolah dan sempet liat peringkat nilai di kelas ngabarin kalau gue peringkat lima besar! Gue panik saking girangnya dan gue mastiin kemana-mana kalau info temen gue itu bukan sekedar hoax!

Pokoknya gue seneng banget deh, sampe tanpa malu-malu gue loncat-loncat sambil teriak-teriak ke ibu gue di depan pintu kamar mandi (kebetulan pas itu ibu gue lagi mandiin adek gue yang masih kecil), seriously.

Oke, buat yang ngerasa dirinya jenius dan sekarang lagi ngeliat sinis blog ini sambil ngedumel dalam hati,
“idih, pasti ini anak bodoh—atau minimal nggak pernah ranking, sampe-sampe lima besar aja dibesar-besarkan alias lebay,”

ah, kalian kejam sekali *ngurut dada*. 
Oke, emang sih, gue emang nggak pernah ngerasa cukup pintar (bukan berarti gue ngerasa gue idiot, ya), tapi setidaknya, selama di SMA ini gue nggak pernah ngerasa nilai rapot gue kelewat mengecewakan—setidaknya buat gue sendiri.

Dari kelas satu SMA gue nggak pernah lepas 10 besar :)

buat yang ngerasa jenius dan rajin 3 besar, mungkin ini bukan apa-apa buat kalian. Tapi buat gue yang ngerasa otak gue pas-pasan buat survive diantara temen-temen gue yang rata-rata pada pinter, ini sebuah pencapaian.

Sepanjang kelas satu, dua semester berturut-turut gue peringkat 8.buat gue yang saat itu masih dilanda euphoria masuk SMA, gue hampir mati saking girangnya.

Puncaknya adalah gue masuk kelas IPA (batal dapet jaminan uang 100% dari Ganesha Operation nih, pffft) dan pada semester satu, gue bener-bener khawatir atas keselamatan nilai-nilai gue di rapot—khususnya fisika, oleh karenanya, gue sampe nazar bakal puasa satu bulan penuh kalau nilai fisika gue di rapot adalah Sembilan, dan puasa satu minggu kalau nilai gue delapan.

Thank God, saat pembagian rapot, ternyata nilai fisika gue delapan puluh pas!!!!
sumpah gue seneng banget! Alhamdulillaaaaaah :)
dan gue pun menjalani masa puasa nazar gue yang seminggu penuh itu dengan riang gembira :)

Pada kelas dua semester dua, gue bener-bener terobsesi untuk meningkatkan nilai-nilai gue—berhubung gue sangat mengincar jalur undangan ke universitas negeri (yang tiketnya adalah nilai rapot dari semester tiga sampai lima harus terus meningkat).
berhubung semester dua diawali di awal tahun baru 2012, maka tercetuslah RESOLUSI 2012!
untuk mendukung Resolusi 2012 gue yang intinya adalah meningkatkan nilai-nilai gue, gue membuat “Rapot Bohongan” yang isinya persis seperti kertas rapot sekolah gue. Gue buat daftar mata pelajaran gue sesuai dengan urutan di rapot semester satu dan gue buat berikut nilai-nilai yang gue targetkan. Tentunya dalam hal ini gue nggak sekedar mencantumkan nilai yang gue inginkan, tapi nilai yang gue rasa mampu gue capai kalau gue bener-bener mau berusaha.

Nilai-nilai pun gue susun (btw, “Rapot Bohongan” gue ditulis manual dengan font besar dan tinta spidol warna-warni).

Dan Rapot Bohongan gue pun terpajang manis di dinding kamar gue. Sengaja gue tempel se-strategis mungkin—di sisi dinding depan ranjang gue, sehingga kalau gue bangun dari tempat tidur ataupun beranjak tidur, mata gue akan langsung bersitubruk dengan rapot gue yang ditempel sejajar mata gue.

Sadar atau nggak, Rapot Bohongan sangat berjasa dalam kehidupan anak sekolahan gue.
Di saat-saat gue kehilangan semangat buat belajar dan sekolah, atau mungkin gue lagi sebel banget sama mata pelajaran tertentu berikut gurunya, mata gue akan langsung menangkap Rapot Bohongan gue, dan secara otomatis pikiran gue akan langsung kembali diduduk-maniskan pada target awal gue.

Gue harus masuk jalur undangan!!

Walaupun begitu, tetep aja kebiasaan buruk gue dari SMP dalam memghadapi ulangan tetep nggak berubah : SISTEM KEBUT SEMALAM!

Ah, ya, gue yakin bukan gue aja yang punya bad habbit kayak begini :p

Bagaimanapun, setiap menghadapi ulangan, gue tetep kelimpungan seperti biasa pada malam harinya. Tapi gue tetep merasa ada peningkatan—sekecil apapun. Misalnya dalam menghadapi mid semester yang soalnya essay (sebelumnya selalu multiple choice) yang dimana gue sangat sadar bahwa gue tidak bisa mengharapkan siapa-siapa kecuali diri gue sendiri (bukan berarti sebelumnya gue selalu ngarapin orang ya!), gue belajar dari selesai maghrib sampai lewat tengah malam! Puncaknya pada saat menghadapi ulangan fisika, gue belajar sampai jam 3 pagi!! (walaupun—yeah, jujur saja—banyak selingannya, hohoho. Mana mungkin otak gue mampu diforsir 8 jam penuh tanpa break padahal faktanya otak manusia memang tidak mampu berkonsentrasi penuh selama berjam-jam tanpa relaksasi setiap jeda 45 menitnya. Ah, gue emang ngeles, tapi btw, itu fakta kok, hehe)
sumpah, itu hal yang nggak pernah gue lakukan sebelumnya seumur hidup.

Oke, intinya, pas bagi rapot, gue dapet peringkat TIGA!!

Gue bangga bukan main!! Sebelumnya gue emang sempet hopeless mengingat temen-temen gue banyak yang pintar—yang berarti kompetisi semakin sulit dan gue nggak bisa mandang mereka hanya dengan sebelah mata (bisa-bisa malah mereka yang mandang gue sebelah mata!), namun kenyataan itu tidak berarti kalau gue melupakan target gue.

Dan akhirnya—gue ulangi sekali lagi—gue dapet ranking tiga! Dengan nilai terbaik sepanjang sejarah rapot gue di SMA!

Dengan nilai yang sama persis seperti RAPOT BOHONGAN gue!!

Luar biasa.

Dan tak lupa, ALHAMDULILLAH. Tentunya semua itu nggak akan terjadi tanpa sabotase tangan Tuhan :)

Ah pokoknya selama hampir seminggu, gue masih shock. Dan speechless. Dan menganggap semua adalah mukjizat atau mungkin kebetulan belaka (walau Ibu gue selalu bilang kalau tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini). Yeah, walaupun sebenarnya nilai Elektro lah yang berperan sangat besar dalam kedudukan rapor gue (big thanks to Mr. Mur!).
Pokoknya, bahkan di dalam mimpi pun, gue nggak pernah terlalu yakin bisa peringkat tiga. Ah, Allah SWT memang Maha Baik :’)


Well, kembali ke masa kini.
Intinya, kebanggaan gue bahwa gue mendapat peringkat lima di semester lima mendadak pupus tatkala gue menatap nilai rapor gue yang turun!!

Crap. CRAP.

Argghh. Gue emang seneng gue bisa peringkat lima (walaupun peringkat gue turun daripada semester sebelumnya), tapi kan percuma kalau nilai-nilai gue turun :(

Kekecewaan gue pun bertambah-tambah lantaran salah satu sohib gue—Gledis—yang juga peringkat lima di kelasnya (kebetulan kelasnya tetanggaan sama kelas gue) nilainya jauh diatas gue.yang jelas, kalau aja Gledis adalah salah satu murid kelas gue, peringkat dua sudah tentu dicapainya!
dan kalau aja gue adalah murid di kelasnya, gue harus cukup puas dengan peringkat dua belas.
huhu miris amat.

Gue nggak iri—sumpah demi Allah! Siapa yang nggak seneng coba kalau punya sohib berprestasi?
tapi… yah, seperti yang lo tahu dan gue gembor-gemborkan daritadi : Gue disappointed sama diri sendiri.

btw, rata-rata nilai kelasnya emang lebih tinggi daripada kelas gue. What the H…?

Ah, mungkin ini gara-gara gue nggak bikin “Rapot Bohongan”.
Ah, mungkin ini gara-gara gue terlalu sombong sama pencapaian yang gue capai sebelumnya.
Ah, mungkin ini gara-gara gue kurang bersyukur sama nikmat yang udah Allah berikan selama ini.
Intinya, gue cukup kecewa.

argghhh. Mulai galau kannn :’(

Dan kekecawaan gue berbaur dengan rasa sedih tatkala gue tahu kalau salah satu sohib gue yang lain ada yang dapet peringkat 35.

Sumpah, gue nggak bohong, gue sedih.

di luar alasan-alasan nepotisme yang menyangkut jelaslah-gue-sedih-dia-kan-sahabat-gue, sekali pandang pun gue tahu dia bukan tipe anak yang malas (walaupun terkadang rasa malas memang muncul, tapi—hey—semua pelajar normal memang begitu kan?), dan gue tahu dia tipe pelajar yang berdedikasi :(

Gue sangat tahu kalau sebenarnya dia punya potensi yang melejit. Dan pantas mendapatkan yang jauh lebih baik.

Kalau sudah begini, gue nggak boleh nunjukin kekecewaan gue di depan dia. Gue yang peringkat lima aja udah kecewa, apalagi dia yang peringkatnya jauh dibawah gue! (yah, walaupun peringkat memang bukan segala-galanya, tapi setidaknya peringkat mampu menjadi tolok ukur—walaupun tidak terlalu objektif)

Bisa-bisa gue disangka sombong bukan main.

Huhu gue kan nggak bermaksud begitu :(

Hhhh. Bagaimanapun, gue—dan rekan-rekan gue—tetep harus bisa masuk PTN lewat SNMPTN 2013 (jalur undangan)!!

Harus!


Ah, udah dulu ya, gue mau mulai nyusun “Rapot Bohongan” dulu. Bye.