Rabu, 14 Desember 2011

Ai

Judul Novel : AI
Penulis : Winna Efendi
Penerbit : GagasMedia, Jakarta, Cetakan pertama, 2009
Tebal : 282 halaman




“Aku mencintai Ai. Tidak tahu sejak kapan—mungkin sejak pertama kali dia menggenggam tanganku—aku tidak tahu mengapa, dan aku tidak tahu bagaimana. Aku hanya mencintainya, dengan caraku sendiri.”
—Sei—

“aku bersahabat dengan Sei sejak kami masih sangat kecil. Saat mulai tumbuh remaja, gadis-gadis mulai mengejarnya. Entah bagaimana, aku pun jatuh cinta padanya, tetapi aku memilih untuk menyimpannya. Lalu, datang Shin ke dalam lingkaran persahabatan kami. Dia membuatku jatuh cinta dan merasa dicintai.”
—Ai—


Sumpah gue sampe netes air mata karena baca novel ini. Mungkin karena gaya bertuturnya yang indah, mungkin juga karena penyampaiannya yang begitu mengena. Pokoknya novel ini bener-bener sesuatu banget. Temen gue baca novel ini malem-malem dan esok paginya matanya bengkak dengan sukses! Terharu bangeeeet :’)


Buat temen-temen yang penasaran gimana jalan ceritanya, ini gue kasih sinopsisnya sedikit. Cekidot! :)

Novel karya Winna Effendi yang satu ini bercerita tentang persahabatan antara Ai dan Sei yang sudah terjalin sejak begitu lama. Dua sahabat yang selalu bersama, saling mengisi satu sama lain, saling membutuhkan, dan diam-diam saling mencintai.

Sei sangat menyayangi Ai. Dia selalu ada untuk Ai. Melindunginya dan menjaganya sebagai seorang kakak, sekaligus seorang teman. Begitu juga dengan Ai. Bersama Sei, Ai selalu merasa dirinya memiliki sebuah tempat untuk kembali, sebuah rumah untuk pulang.
 
Setelah beranjak remaja, Ai mulai menyadari satu hal : Dia mencintai Sei. Ai tahu bahwa Sei memang menyayanginya, tapi dia sadar betul bahwa rasa sayang Sei kepada dirinya hanya sebatas sebagai seorang sahabat. Kenyataan tersebut secara tidak langsung membuat hati Ai hancur.

Kemudian Shin datang ke dalam lingkaran persahabatan mereka. Mereka bertiga adalah tim yang sangat kompak. Bersama Shin, Ai menemukan banyak kecocokan. Mereka kemudian saling mencintai.

Saat Shin melamar Ai dan Ai menerimanya, saat itulah Sei benar-benar menyadari kebodohannya. Saat Shin memasukkan sebuah cincin ke jari manis Ai, Saat itulah Sei benar-benar menyadari keterlambatannya. Dia mencintai Ai. Dan semuanya sudah terlambat—jauh sebelum hari itu—karena sadar atau tidak, Ai telah memilih.

Lalu bagaimana selanjutnya kisah mereka? Apakah Shin dan Ai akan tetap bersama? Apakah Sei bisa mendapatkan kebahagiaannya sendiri? Mendingan baca selengkapnya aja deh di novelnya. Nggak nyesel kok. Nyokap gue aja juga jadi ikut-ikutan baca novel ini :)
 Most recommended!


“Cinta seperti sesuatu yang mengendap-endap di belakangmu. Suatu saat, tiba-tiba kau baru sadar, cinta menyergapmu tanpa peringatan.”
“Hal terpenting dalam cinta adalah persahabatan, dan hal terpenting dalam persahabatan… adalah cinta.”

Dari Aku, untuk Kamu


“Tidak tahu sejak kapan aku mulai memperhatikanmu. Mungkin sejak saat kali pertama kita bertemu. Dan sejak saat itu pula, diam-diam aku merindukanmu, dan diam-diam pula aku mencintaimu. Dalam kebisuan. Dalam setiap kesunyian.

Tidakkah kau tahu betapa sakitnya merindu dan menunggu? Tanpa pernah tahu hasil dari rasaku dan penantianku? Tidak, aku sama sekali tidak menuntut balasan apapun darimu. Walau rasa ingin terbalas itu selalu ada dalam setiap pengharapan, dalam doaku, dalam anganku, dalam mimpiku.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Sama sederhananya dengan aliran sungai. Mengalir begitu saja. Jenis cinta yang tulus apa adanya, tanpa rekayasa dan tanpa paksaan. Hanya bisa mengagumi dan mencintai dari jauh.

Kau tahu hal apa yang paling menyakitkan bagiku? Bukan, bukan ketika kau mencintai orang lain dan mengharapkan sesuatu yang lain. Bukan, bukan ketika kau tidak memedulikanku atau bahkan mencampakkan hatiku. Hal yang paling menyakitkan adalah, kau sama sekali tidak mengetahui perasaanku dan aku tidak berani mengungkapkannya padamu.


Kau tahu mengapa aku tidak bisa mengungkapkannya padamu? Bukan, bukan karena aku takut kau tidak membalas cintaku. Bukan, bukan karena aku takut kau berpaling menjauhiku. Tapi hanya dengan hal inilah aku jadi tahu bagaimana rasanya mencintai dengan tulus, dengan sepenuh hati. Rasanya begitu indah walau terkadang menyakitkan.
 
Tapi jangan khawatir, aku sudah terbiasa.

Aku terlalu terbiasa..

Jangan pernah merasa kau tidak bahagia dengan hidupmu. Tahukah kau bahwa dengan keberadaanmu di dunia ini saja sudah membuatku merasa hidupku bahagia?

Senyumanmu adalah anugerah, kau tahu? Hanya dengan melihat senyummu saja kau sudah bisa membuatku merasa tidak menyesal terlahir di dunia ini.
 
Kau tahu apa yang selalu kupikirkan ketika melihatmu? Aku berpikir,

“Betapa beruntungnya gadis yang kelak menjadi kekasihmu nanti.”
Aku tidak terlalu mengharapkan gadis itu adalah aku. Karena apakah hal itu masih bisa dianggap penting jika yang utama bagiku hanyalah kebahagiaanmu?

Banyak orang berpikir betapa menyakitkannya melihat orang yang kita cintai bahagia bersama orang lain. Ya, memang menyakitkan, tapi bukankah lebih menyakitkan lagi apabila kita melihat orang yang kita cintai tidak bahagia bersama kita?


Tak banyak lagi yang ingin kusampaikan padamu. Hanya untaian rasa terima kasih. Terima kasih karena sudah mengajariku bagaimana mencintai dengan tulus, dengan caraku sendiri. Terima kasih karena sudah mengajariku rasanya menanti dan berharap. Terima kasih karena sudah selalu ada di setiap mimpiku. Terima kasih karena sudah mengisi penuh relung hatiku.Semoga kau bahagia.”

Meleeeer


Akhir-akhir ini gue pilek-batuk nggak berhenti-berhenti. Hmm kenapa ya? Apakah karena gue terlalu berdosa sehingga Tuhan ngasih gue cobaan begini berat? Apakah karena gue belum sanggup ngebiayain orangtua gue naik haji? Atau apakah gue masih punya utang pulsa sama Citra? Hmm bukan, bukan. Gue (hampir) yakin banget kok utang pulsa gue udah lunas semua. Jadi alasan yang paling mungkin adalah karena kondisi cuaca yang sama sekali nggak mendukung. Panas-hujan terus menerus. Padahal gue termasuk orang yang jarang sakit loh. Gue orang paling sehat di keluarga gue. Hmm mungkin faktor lain dari cuaca adalah karena pola makan gue di sekolah. Di sekolah, gue makannya nggak terkontrol banget. Kalo di rumah kan nggak boleh makan ini-itu, makanan semua dijaga. Nah kalo di sekolah kan nggak ada yang ngelarang-larang.
Sumpah nggak enak banget pilek-batuk kayak gini. Di sekolah bawaannya narik inguus mulu. Kan nggak enak aja gitu kalo pas guru lagi serius nerangin, kelas sunyi pada merhatiin, gue malah sok asik mainin ingus gue di pojokan.
Srooot! Sroooot!! Asli Ini sama sekali nggak semerdu yang dibayangkan..

*narik ingus*

Tapi penyakit kecil kayak gini nggak membuat gue terpaksa pergi ke rumah sakit. Soalnya gue yakin banget ini bukan TBC (Tolak balaa! *ngetok-ngetokin tangan ke kayu*).

Terakhir kali gue ke rumah sakit untuk berobat adalah pas gue masih umur sekitar 3-4 tahun. Rumah gue waktu itu ada di Slipi. Gue inget banget, waktu itu gue sama kakak gue lagi main dorong-dorongan meja. Nah berhubung badan kakak gue lebih besar dari gue dan kekuatannya juga lebih besar, dia yang menang. Dia dorong meja terlalu keras sampe ujung meja yang terbuat dari kaca itu nyundul jidat gue. Jidat gue bocor. Gue inget wajah kakak gue langsung pucat banget, persis kayak orang yang lagi nonton sinetron pembunuhan. Gue nangis keras banget, gue yakin tangisan gue mampu menggetarkan hati para pejabat supaya nggak korupsi lagi. Kasian rakyat kan? Uang yang dikorupsi itu kan uang rakyat, tapi malah dipake untuk kesenangan pribadi. Suatu saat nanti kalo gue udah jadi Presiden, gue bakal bertindak keras untuk para pelaku korupsi gini. Gue nggak mau mereka cuman dikasih hukuman penjara beberapa tahun aja di sel penjara yang berfasilitas lengkap. Gue bakal naro tuh koruptor ke sel yang sama kayak tahanan lain. Dan dipenjara seumur hidup biar jera! *sumpah ini garing banget* *abaikan*

*back to main topic*

 Akhirnya orangtua gue segera bawa gue ke rumah sakit dan jidat gue pun dijahit. Sampe sekarang, saat gue udah berumur 16 tahun gini, bekas jahitannya masih ada.
Jadi berasa keren banget. Hueheheehehe

Wassalam

PS: doain gue biar cepet sembuh ya. nggak enak nih soalnya meler terus 

Senin, 21 November 2011

Take My Heart (lyric) - Soko


You can take my heart for a walk on the beach
You can take my heart for a little trip
You can take my heart very close to your heart
You can take my heart forever if you like

But not every heart belongs to any other
You and I
You and I are meant to be
I'm the one for you, You're the one for me
You love me as much as I do
When you look at me and we're skin to skin
I want you so
Please come in
And you love me more and more
And my love grows up with you
And you kiss me more and more
And I kiss you, too
And I kiss you, too

If I take your heart, I will cherish it every day
If I take your heart, I will heal these old wounds
If I take your heart, it's to make it happy
If I take your heart, it's forever close to mine

But not every heart belongs to any other
You and I
You and I are meant to be
I'm the one for you, You're the one for me
You love me as much as I do
When you look at me and we're skin to skin
I want you so
Please come in
And you love me more and more
And my love grows up with you
And you kiss me more and more
And I kiss you, too
And I kiss you, too

(violin solo!)

I don't care, I don't care
If I'm again carried away
If you swear, if you swear
To give me your heart in return
To give me your heart in return

I don't care, I don't care
If I'm again carried away
If you swear, if you swear
To give me your heart in return
To give me your heart in return

Selasa, 27 September 2011

Secret Admirer


 Secret Admirer atau dalam bahasa indonesianya ‘Penggemar Rahasia’, adalah seorang penggemar yang tidak ingin identitasnya diketahui oleh sang idola. Lo pasti pernah dong ngerasain jadi secret admirer gini. Ya, sama halnya dengan gue. Disini gue pengen cerita dikit mengenai pengalaman gue..
Ehem.
Sebut saja dia Kuda (bukan nama sebenarnya). Kenapa gue sebut dia Kuda? Kenapa nggak Singa, Macan, atau sekedar Lumba-lumba? Nah, Pertama, karena dia sama sekali nggak mirip Singa dan rambutnya juga nggak kribo gitu kayak singa jantan. Kedua, dia juga nggak mirip macan. Macan itu kan agresif gitu yah tapi si ‘Kuda’ ini kesannya cuek gitu, lagian si ‘kuda’ ini juga nggak sangar kok kayak macan, malah mukanya unyu gitu, haha. Ketiga, karena nama ‘Lumba-lumba’ itu kesannya agak gimanaa gitu, kurang macho gitulah kedengarannya, lagian juga suku katanya terlalu panjang, jadi susah kalo mau diucapin. Nah, jadi terpilihlah kata ‘Kuda’ karena kuda itu gagah berani dan kakinya jenjang dan lincah (ini persamaan antara kuda sebenarnya dengan si ‘Kuda’). Gue tau pasti bokapnya bakal ngamuk kali ya kalo tau anaknya disama-samain sama hewan gini, hahaha (maafkan saya, Oom. Saya khilaf L)
Nah, lanjut…
Kuda ini adalah salah satu junior gue. Yaaa.. berondong gitulah istilahnya. Hmm sumpah ya, si Kuda ini gantengnya bener-bener nggak wajar. Pas gue pertama kali ngeliat dia, gue aja langsung klepek-klepek, dan hal itu ternyata juga terjadi pada teman-teman gue.
Nggak sedikit kok temen-temen gue yang juga ngagumin dia. Jadi bisa dibilang si Kuda ini adalah kecengan bersama. Lo tau kan kalo kecengan beda sama naksir? Kecengan itu cuman sekedar kebutuhan mata, sedangkan kalo naksir itu berarti udah mulai pake hati. Dan gue serta temen-temen gue sepakat kalo salah satu diantara kita nggak ada yang boleh jadian sama si Kuda (elahh kayak si Kuda mau sama kita aja, haha). Ya kan nggak adil aja gitu, masa iya kecengan yang sudah dianggap sebagai milik bersama malah dimonopoli salah satu pihak aja?

#Backsound: Secret Admirer—Mocca#

Jadi… Bagaimana awal mulanya?
Kejadiannya bermula di suatu pagi di hari yang cerah. Saat itu salah seorang temen gue yang namanya Fikri datang tergopoh-gopoh sambil menjerit heboh, “husna! Kamu tau nggak sih ada anak kelas satu yang ganteng banget namanya Kuda! Tadi aku ketemu di kantin. Mukanya itu bersih banget, putih, tinggi, bla bla bla……”
Gue tercenung. Kuda? Kayaknya gue pernah denger. Oh iya, kuda itu kan yang digunakan buat delman itu! *hening*
Kriuk..kriuk..
Bukan, bukan. Gue serius. Gue pernah dengar namanya sebelumnya dari salah seorang teman gue sekaligus adek kelas gue pas SD. Sebut saja dia Jihan (memang nama sebenarnya). Nah, Jihan ini ternyata satu SMP dengan si Kuda ini. Gue lumayan deket dengan teman-teman SMP si Jihan ini, dan teman-teman si Jihan ini dulu suka ngolokin Jihan sama si Kuda (“cieee Jihan sama Kuda, ciee cieee”). Nah gue yang nggak tau apa-apa tentang gossip ini pun akhirnya bertanya pada Jihan tentang siapa Kuda. Jihan bilang Kuda itu temennya dan anak-anak sering ngololokin dia suka sama Kuda. Lantas gue bertanya kenapa mereka ngolokin si Jihan ini? Dia bilang dia juga nggak tahu, tapi dia bilang si Kuda ini emang ganteng dan banyak teman-teman SMP nya yang naksir sama si Kuda ini. Mendengar kata ‘ganteng’, rasa penasaran gue memuncak. Gue penasaran banget gimana sih ‘cowok ganteng’ versi sekolah elite. Apa mirip dengan yang ada di sinetron-sinetron?
Nah, setelah menunggu cukup lama (tunggu sampe si Jihan ini lulus), akhirnya gue tau yang mana yang namanya Kuda dari buku perpisahan sekolahnya. Di dalam foto itu ternyata mukanya Kuda biasa aja, jadi gue ngerasa kurang excited gitu. Gue cuman baca sekilas gitu doang tentang profilnya, yang gue ingat jelas adalah cita-citanya sebagai seorang pebasket professional..
Nah, kembali ke jaman SMA gue. Gue udah merasa curiga pas Fikri cerita tentang si Kuda. Otak gue berputar-putar, ‘jangan-jangan dia Kuda yang temannya Jihan’, begitu pikir gue.
Saat istirahat ke dua, gue ke kantin. Nah disitu gue berpapasan sama seorang cowok jangkung (yang gue yakin sebagai adik kelas) yang pesonanya nyaris bikin gue salto di tempat. Gue ancang-ancang pengen lompat indah bak lumba-lumba, tapi gue sadar itu nggak mungkin dilakukan mengingat sikon yang ada. Gue langsung ambil kesempatan buat baca namanya yang tertempel di dadanya : ‘Kuda blablabla’. Gue bengong. Gue nggak pernah berfikir kalo versi aslinya ternyata jauh lebih ganteng!
Nah setelah kembali ke kelas, gue segera ngasih informasi ini ke temen-temen gue, dan gue serta teman-teman gue dengan gencar mulai mencari tau tentang si Kuda ini. Gue mengkhayalkan ini seperti pelacakan seorang buronan oleh tim investigasi gosip (gue juga bingung kenapa harus gosip). Gue jadi menyesal kenapa dulu gue nggak baca selengkap-lengkapnya tentang profil dia di buku kenangan (gue pengen cari tau ke Jihan lagi, tapi gue gengsi dong). Gue dan teman-teman gue mulai mencari tau informasi tentang dia, mulai dari mencari ke segala penjuru kelas angkatannya agar tau dimana letak kelasnya, sampai mengorek informasi dari facebooknya (dari sini kita malah sampai tau siapa nama calon mertua gue bokap dan nyokapnya). Dan dari situ juga  gue jadi tau kalo ultahnya dia sama ultahnya gue cuman beda sehari aja. *joget hawaii*
Alhamdulillah yahh.. something beudh.
Well, intinya, kita mulai sepakat memberikan gelar si Kuda ini sebagai kecengan bersama. Kita sering merhatiin dia pas ke kantin, nungguin dia di gerbang setiap pulang sekolah, bahkan kita sering khawatir kalo nggak menemukan si Kuda ini. Semuanya terasa normal dan menyenangkan sampai saat kesaltingan gue setiap ketemu dia (apalagi kalo ngeliat dia senyum ato ketawa) membawa bencana bagi gue dan teman-teman seperjuangan gue. Ya ampun, gue goblok banget sih pake acara salting-saltingan segala! Padahal si Kudanya aja tetep biasa aja gitu diliatin sama senior-seniornya ini, tetep stay cool dan nggak merasa terganggu (gue jadi curiga, dia ini sebenernya emang cuek atau buta-tuli sih? -__-).
Well, awalnya gue nggak langsung ke gep sama dia sih, tapi sama temen-temennya. Kalo sekali-sekali sih mungkin nggak bakalan curiga, tapi masalahnya ini sudah ke gep berkali-kali! Gue jadi merasa bersalah dan merasa gak nyaman lagi, begitu juga bagi teman gue yang ikut kena imbasnya (sorry banget yaa, guys (._.)v ). Gue yakin banget teman-temannya si Kuda itu pasti udah tau kalo kami adalah secret admirer(s) nya si Kuda, pasalnya setiap ngeliat kita, temen-temennya langsung bisik-bisikin si Kuda sambil ketawa-ketawa, si Kuda nanggapinnya dengan senyum-senyum aja, pernah juga dia sampai noleh (sambil tersenyum) buat ngeliat kita (saat itu gue langsung ke gep karena pada saat dia noleh itu, gue juga lagi ngamatin dia dari belakang dan kontan aja pipi gue langsung blushing! (Tengsin abis!!) Rasanya tuh kayak lo lagi ngeliatin orang yang lo suka dan orang itu balik ngeliatin lo juga! *panik tingkat PNS*
SUMPAH RASANYA TUH MALU BANGET!! RASANYA GUE PENGEN PAKE TOPENG ATO TERJUN BEBAS DARI LANTAI LIMA!! *panik tingkat mahasiswa*
Kesaltingan gue memuncak! Sontak gue ngeloyor gitu aja dari tempat kejadian (gue nyesel banget, harusnya gue tetap diam di tempat aja, kalo kabur kan malah tambah ketahuan) *nangis dibawah pohon*
Besok-besoknya (bahkan sampai saat gue menulis ini), gue mencoba bersikap biasa dan wajar seolah-olah gue nggak pernah mengenal dia sebelumnya. Setiap ketemu atau papasan, gue pun pura-pura nggak tau gitu, gue belum berani ngeliat wajahnya karena takut penyakit salting gue kumat lagi (ah sialan, lama-lama gue rutuk juga nih penyakit). Gue dan teman-teman pun mulai merubah jadwal pulangan kami dari yang ‘mangkal lama-lama di gerbang dengan posisi strategis demi ngeliat dia’ menjadi ‘pulang cepat-cepat biar nggak ketemu dia’. Gue berusaha ngelupain dia (kayak move on gitu deh..), ngelupain senyumnya yang menawan (yang selalu bikin gue melting), ngelupain matanya yang bersinar (gak se-hiporbola itu sih, tapi ini beneran!), dan ngelupain segalanya (gue juga bingung, jangan-jangan gue naksir beneran, ya..). ini demi kebaikan gue juga, demi menjaga imej gue, masa depan gue, dan citra gue sebagai kakak kelas (tsaaaah…) :)

Wassalam

Sekolah itu...


Dulu banget pas gue masih unyu-unyu nya dan belom sekolah, gue ngebet banget pengen sekolah. Muka gue langsung mendadak mupeng pas liat kakak gue pake seragam TK yang emang lucu-lucu dan berangkat ke sekolah (gue sama kakak gue cuman beda setahun aja).
Sekolah itu menurut gue… sesuatu banget.
Dan gak perlu waktu lama sampai impian gue itu tercapai. Setahun berikutnya gue udah masuk TK juga. Masa TK itu indah ya, banyak mainnya daripada belajarnya, dan gara-gara hal itu gue jadi kurang mengingat masa-masa TK gue. Hal yang paling membekas dalam ingatan gue pas jaman TK adalah gue pernah bolos sekolah sebulan. Ya, SEBULAN!! *sengaja diulang biar makin unyu*
iya, ini serius. Gara-garanya adalah karena temen gue dulu yang namanya Hani sering banget nyiksa gue. Bukan, bukan ‘nyiksa’ seperti yang kalian kira. Bentuk penyiksaan yang dia lakukan adalah,
Setiap pagi dia selalu MAKSA GUE BUAT HABISIN BREAKFAST yang disedian di sekolah!
Tentu buat gue yang (dulu) gak doyan makan, hal itu merupakan masalah besar. Gue pilih-pilih dalam hal makanan, kalo gue gak suka ya gak gue makan. Tapi Hani ini dengan nistanya selalu maksa-maksa gue sambil bersikap bossy. Dan berhubung badan gue lebih mungil dari dia, nyali gue pun ciut untuk nentang dan akhirnya dengan sangat terpaksa gue habisin tuh kue-kue. Somplak beuddh..

#backsound: Gubuk Derita—(gue juga gaktau)#

Setelah sekitar seminggu diperlakukan gak demokratis kayak gitu, gue pun akhirnya ngadu ke nyokap.Sebagai warga Negara, gue ingin menyuarakan pendapat gue dan menagih hak-hak gue. Gue minta ke nyokap pengen cuti sekolah aja. Tentu aja awalnya nyokap gue menentang keras keinginan suci gue ini, tapi untung aja gue punya jurus—nangis keras sampe ngompol—sehingga seraya membersihkan bekas ompol gue, hati nyokap gue pun luluh juga..
Selama ‘liburan’, wali kelas gue rajin banget nelpon ke rumah (gue jadi curiga jangan-jangan beliau penjual pulsa), beliau bujuk-bujuk gue supaya mau balik sekolah lagi. Beliau bilang gue boleh request sendiri breakfast yang gue mau dan beliau juga menjamin tidak akan ada anak lagi yang maksa gue habisin makanan. Hati gue yang keras tentu aja gak mempan sama rayuan tingkat playgroup kayak gitu, sampe akhirnya nyokap gue bilang kalo gue keseringan gak masuk, ntar gue gak bisa masuk SD dan kalo udah besar akan jadi pembantu dan bernasib seperti TKW seperti yang di TV-TV itu. Sumpah ya ini nyokap tega banget sih sama gue.
Dan—dengan sogokan permen mentos—esok harinya gue pun kembali sekolah…

Setelah periode TK gue lewatkan, gue pun berhasil keterima di sebuah SD swasta dengan sukses. Alhamdulillah banget yahh..
Masa-masa SD gue penuh dengan kegembiraan. Guru-guru gue baik dan teman-teman gue juga asik. Gue inget, dulu gue takut banget pas ulangan pertama. Gue kira ulangan itu yang kayak nginep-nginep di hutan gitu, eh ternyata bukan. Pokoknya puncak kejayaan masa SD gue terjadi pas gue kelas enam. Gue udah punya geng yang—ehem—cukup eksis di sekolah. Nama gengnya ‘DD (Dark Devil)’. Setelah gue pikir-pikir sekarang, tuh ternyata nama gengnya agak alay ya. Kesannya itu nama geng preman-preman gitu padahal nyatanya anggotanya adalah sekolompok gadis-gadis imut dan lucu :p
Huehehehee
Setelah SD, gue masuk SMP (iyalah!). Gue terdaftar di salah satu SMP terbaik di Kota. Untuk kali ini gue juga cuman pengen bilang ‘Alhamdulillah banget yahh..’
Masa kejayaan gue jaman SMP mungkin pas kelas tiga kali ya. Soalnya pas kelas tiga itu gue mulai punya yang namanya ‘bubuhan’, dan kita melakukan banyak hal bersama. Ya mulai hangout bareng, nonton ke bioskop bareng, atau bahkan sekedar menghabiskan waktu sambil nongkrong-nongkrong di sekolah sampe sore. Pokoknya berkesan deh, hahhaha J

Setelah gue tamat SMP, gue pun melanjutkan ke bangku SMA. Alhamdulillah juga gue keterima di salah satu SMA unggulan di kota. Gue agak sedih juga sih karena teman-teman gue mulai mencar-mencar L
Pas pertama-tama masuk SMA, sumpah ya gue excited banget. Banyangin aja gitu looh, gue bakal pake seragam putih abu-abu! Ya ampun rasanya tuh kayak di film-film gitu. Gue bersama Citra (sahabat pertama gue di SMA), sama-sama udah ngebayangin gimana kehidupan SMA kami nantinya, seperti bertemu cowok-cowok SMA yang ganteng-ganteng kayak yang di ftv, dan kami juga membayangkan diri kami punya kisah seperti yang di novel-novel yang suka mengumbar mimpi dan harapan. Saat itu kami ngerasa udah jadi remaja yang sebenarnya (kayak yang di sinetron-sinetron itu loh). Gue ngerasa mentang-mentang gue udah SMA, gue udah boleh kelayapan sampai malam, boleh pacaran, boleh ngapain aja pokoknya! Pokoknya bener-bener sesuatu banget..
Tapi ternyata gue salah… #jengjenjeeng

Masa SMA ternyata nggak seindah yang dibayangkan. Sampai saat ini gue pun masih nggak boleh keluar malam. *nangis di bawah shower*
Rasanya tuh ngenes banget gitu yah. Belum lagi tugas-tugas yang menumpuk dan otak yang terlalu diforsir di sekolah menyebabkan gue seperti kekurangan kesenangan. Pokoknya buat adik-adik yang ingin masuk SMA (terutama SMA unggulan), gue ingetin aja jangan terlalu berkhayal seperti yang di film-film itu. Lo nggak bakal bisa pake rok pendek sampe sepuluh centi di atas lutut ke sekolah, sepatu warna-warni yang menyilet mata, make up (maksimal cuman lip balm sama bedak bayi), ataupun nyempitin seragam sampe keliatan kayak penari india. Semua nggak seindah yang lo kira, guys. Faktor terbesarnya adalah karena tertutup oleh tugas-tugas dan PR yang banyaknya naujubilah, belum lagi remedial-remedialnya, beeeeh…. *gugur di bawah shower*
Tapi tenang, semuanya nggak seburuk itu kok. Masa SMA membuat gue belajar banyak hal dan membuat banyak pengalaman, dan bener-bener membuat gue mengerti apa yang namanya kebersamaan, persahabatan, dan cinta kasih (eaaa).Iya, ini beneran. Gue baru pertama kali ngerasain yang namanya solidaritas yang sebenarnya bersama temen-temen gue. Segala hal yang gue lakukan bersama teman-teman, apapun itu terasa menyenangkan J
Hmm mungkin ini faktor pematangan kali ya. Gue sadar gue udah bukan ABG lagi, udah nggak boleh bersikap seperti anak-anak lagi, udah mulai menentukan pilihan sendiri, gue udah jadi remaja yang seutuhnya dan belajar untuk menjadi dewasa. Kata orang, masa SMA adalah masa yang paling indah dan gue udah mulai dapat merasakannya (minus tugas sekolah). Gue merasa harus bener-bener memanfaatkan masa SMA ini dan membuat setiap detiknya berarti (tsaaah..)
Pokoknya SMA itu bener-bener sesuatu kok. Mungkin gue nggak bisa mengalami hal-hal yang terjadi seperti di dalam ftv atau novel-novel, tapi hal-hal lainnya dapat membuat gue bersyukur dan menghargai masa kini. Enjoy your day!


Welcomeee!


Ehem. Ehem
Buat Elo yang ada disana, iya, buat orang yang lagi baca tulisan ini. Gue cuman pengen kasih tau kalo ini adalah blog gue. Iya, ini blog gue. Kalian pasti bertanya-yanya tentang siapa gue, darimana gue, keadaan gue dan bagaimana gue terbentuk? (elahh, penting banget yak) Oke, untuk yang terakhir itu silahkan bertanya kepada orangtua kalian, mereka pasti lebih paham dari seorang gue yang polos ini *bayangkan tampang gue dalam versi sebejat sepolos mungkin*

#Backsound: Welcome to My Life—Simple Plan#

Ehem. Oke yah langsung aja. Hmm sebenernya gue udah lama pengen bikin blog tapi berhubung jadwal gue yang padat (elahh, sok banget) yahh sempetnya baru bikin sekarang deh. Lagian di rumah gue gak pasang speedy, modem juga sering dimonopoli terus di rumah, jadi yaa terpaksa gue harus mencari warnet-warnet terdekat dan termurah *mental pelajar*  ato paling nggak numpang wifi sekolah dan pinjam modem orang (kan mumpung gratisan yahh)
Miris banget yak gue.
Oke, jadi sebelum gue tambah ngelantur, langsung aja perkenalan diri.
Nama gue NIDAUL HUSNA. Nama panggilan gue (dulu) Nida, tapi semenjak gue menginjak Bangku TK (sumpah gue gak pernah sebinal itu sampe nginjak-nginjak bangku anak TK), nama panggilan gue berubah menjadi HUSNA!! YA, HUSNA!!! #jengjengjeeng
WHY??
yaaa karena gue pengen aja, gue pengen mencari sensasi baru (dari TK gue udah ngerti kalimat-kalimat berat macam ‘sensasi’ ) huehehehe
Hmm gue anak Balikpapan kelahiran Jakarta, 31 Agustus (tahun kelahiran gue rahasiakan agar gue bisa selalu merasa awet muda hehe). dengan kata lain zodiak gue virgo. Sebenernya gue gak percaya sih sama hal hal berbau ramalan gitu, tapi yaa tergantung juga, kalo ramalannya baik gue percaya aja hahaha sapatau kan bisa jadi mood-booster J
Hobi gue Menggambar Menulis dan Membaca (3M). gue agak bersyukur  yahh punya hobby yang agak elitan gini walau kedengarannya jadi agak nerd gitu, pasalnya temen gue malah ada yang punya hobby 3N (Ngerokok Ngedugem dan Ngupil), sumpah N yang terakhir itu bener-bener gak elit.
Perlu gue tekankan, blog ini isinya nanti akan mengenai kehidupan gue, curcolan gue, maupun hal-hal yang menurut gue menarik dan pengen gue share ke kalian semua. Jadi buat yang pengen cari referensi buat bkin skripsi, makalah maupun tugas sekolah, blog ini sangat tidak disarankan untuk menjadi sumbernya (kalo lo nggak mau makalah lo dikata buku harian). Gue juga bikin blog ini hanya sebagai hiburan semata dan menyalurkan hobi, hehe. Jadi buat yang lagi mau pesen barang online atau lagi nyari lowongan pekerjaan, blog ini (lagi-lagi) sangat tidak dianjurkan. Yahh kecuali kalo nyokap gue lagi nyari pembantu, kalian bisa ngelamar pekerjaan disini (huehehe becanda)
Well, perkenalannya kita tutup sampe disini dulu yaa.
banyak lagi yang pengen gue ceritain disini, tapi gue tau itu bisa ntar-ntar aja.
Oke, cukup sekian. Gue, Husna Montana undur diri dari hadapan kalian

SALAM METAALL /m/  !!!  Cups Mwah! :*