Rabu, 14 Desember 2011

Ai

Judul Novel : AI
Penulis : Winna Efendi
Penerbit : GagasMedia, Jakarta, Cetakan pertama, 2009
Tebal : 282 halaman




“Aku mencintai Ai. Tidak tahu sejak kapan—mungkin sejak pertama kali dia menggenggam tanganku—aku tidak tahu mengapa, dan aku tidak tahu bagaimana. Aku hanya mencintainya, dengan caraku sendiri.”
—Sei—

“aku bersahabat dengan Sei sejak kami masih sangat kecil. Saat mulai tumbuh remaja, gadis-gadis mulai mengejarnya. Entah bagaimana, aku pun jatuh cinta padanya, tetapi aku memilih untuk menyimpannya. Lalu, datang Shin ke dalam lingkaran persahabatan kami. Dia membuatku jatuh cinta dan merasa dicintai.”
—Ai—


Sumpah gue sampe netes air mata karena baca novel ini. Mungkin karena gaya bertuturnya yang indah, mungkin juga karena penyampaiannya yang begitu mengena. Pokoknya novel ini bener-bener sesuatu banget. Temen gue baca novel ini malem-malem dan esok paginya matanya bengkak dengan sukses! Terharu bangeeeet :’)


Buat temen-temen yang penasaran gimana jalan ceritanya, ini gue kasih sinopsisnya sedikit. Cekidot! :)

Novel karya Winna Effendi yang satu ini bercerita tentang persahabatan antara Ai dan Sei yang sudah terjalin sejak begitu lama. Dua sahabat yang selalu bersama, saling mengisi satu sama lain, saling membutuhkan, dan diam-diam saling mencintai.

Sei sangat menyayangi Ai. Dia selalu ada untuk Ai. Melindunginya dan menjaganya sebagai seorang kakak, sekaligus seorang teman. Begitu juga dengan Ai. Bersama Sei, Ai selalu merasa dirinya memiliki sebuah tempat untuk kembali, sebuah rumah untuk pulang.
 
Setelah beranjak remaja, Ai mulai menyadari satu hal : Dia mencintai Sei. Ai tahu bahwa Sei memang menyayanginya, tapi dia sadar betul bahwa rasa sayang Sei kepada dirinya hanya sebatas sebagai seorang sahabat. Kenyataan tersebut secara tidak langsung membuat hati Ai hancur.

Kemudian Shin datang ke dalam lingkaran persahabatan mereka. Mereka bertiga adalah tim yang sangat kompak. Bersama Shin, Ai menemukan banyak kecocokan. Mereka kemudian saling mencintai.

Saat Shin melamar Ai dan Ai menerimanya, saat itulah Sei benar-benar menyadari kebodohannya. Saat Shin memasukkan sebuah cincin ke jari manis Ai, Saat itulah Sei benar-benar menyadari keterlambatannya. Dia mencintai Ai. Dan semuanya sudah terlambat—jauh sebelum hari itu—karena sadar atau tidak, Ai telah memilih.

Lalu bagaimana selanjutnya kisah mereka? Apakah Shin dan Ai akan tetap bersama? Apakah Sei bisa mendapatkan kebahagiaannya sendiri? Mendingan baca selengkapnya aja deh di novelnya. Nggak nyesel kok. Nyokap gue aja juga jadi ikut-ikutan baca novel ini :)
 Most recommended!


“Cinta seperti sesuatu yang mengendap-endap di belakangmu. Suatu saat, tiba-tiba kau baru sadar, cinta menyergapmu tanpa peringatan.”
“Hal terpenting dalam cinta adalah persahabatan, dan hal terpenting dalam persahabatan… adalah cinta.”

Dari Aku, untuk Kamu


“Tidak tahu sejak kapan aku mulai memperhatikanmu. Mungkin sejak saat kali pertama kita bertemu. Dan sejak saat itu pula, diam-diam aku merindukanmu, dan diam-diam pula aku mencintaimu. Dalam kebisuan. Dalam setiap kesunyian.

Tidakkah kau tahu betapa sakitnya merindu dan menunggu? Tanpa pernah tahu hasil dari rasaku dan penantianku? Tidak, aku sama sekali tidak menuntut balasan apapun darimu. Walau rasa ingin terbalas itu selalu ada dalam setiap pengharapan, dalam doaku, dalam anganku, dalam mimpiku.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Sama sederhananya dengan aliran sungai. Mengalir begitu saja. Jenis cinta yang tulus apa adanya, tanpa rekayasa dan tanpa paksaan. Hanya bisa mengagumi dan mencintai dari jauh.

Kau tahu hal apa yang paling menyakitkan bagiku? Bukan, bukan ketika kau mencintai orang lain dan mengharapkan sesuatu yang lain. Bukan, bukan ketika kau tidak memedulikanku atau bahkan mencampakkan hatiku. Hal yang paling menyakitkan adalah, kau sama sekali tidak mengetahui perasaanku dan aku tidak berani mengungkapkannya padamu.


Kau tahu mengapa aku tidak bisa mengungkapkannya padamu? Bukan, bukan karena aku takut kau tidak membalas cintaku. Bukan, bukan karena aku takut kau berpaling menjauhiku. Tapi hanya dengan hal inilah aku jadi tahu bagaimana rasanya mencintai dengan tulus, dengan sepenuh hati. Rasanya begitu indah walau terkadang menyakitkan.
 
Tapi jangan khawatir, aku sudah terbiasa.

Aku terlalu terbiasa..

Jangan pernah merasa kau tidak bahagia dengan hidupmu. Tahukah kau bahwa dengan keberadaanmu di dunia ini saja sudah membuatku merasa hidupku bahagia?

Senyumanmu adalah anugerah, kau tahu? Hanya dengan melihat senyummu saja kau sudah bisa membuatku merasa tidak menyesal terlahir di dunia ini.
 
Kau tahu apa yang selalu kupikirkan ketika melihatmu? Aku berpikir,

“Betapa beruntungnya gadis yang kelak menjadi kekasihmu nanti.”
Aku tidak terlalu mengharapkan gadis itu adalah aku. Karena apakah hal itu masih bisa dianggap penting jika yang utama bagiku hanyalah kebahagiaanmu?

Banyak orang berpikir betapa menyakitkannya melihat orang yang kita cintai bahagia bersama orang lain. Ya, memang menyakitkan, tapi bukankah lebih menyakitkan lagi apabila kita melihat orang yang kita cintai tidak bahagia bersama kita?


Tak banyak lagi yang ingin kusampaikan padamu. Hanya untaian rasa terima kasih. Terima kasih karena sudah mengajariku bagaimana mencintai dengan tulus, dengan caraku sendiri. Terima kasih karena sudah mengajariku rasanya menanti dan berharap. Terima kasih karena sudah selalu ada di setiap mimpiku. Terima kasih karena sudah mengisi penuh relung hatiku.Semoga kau bahagia.”

Meleeeer


Akhir-akhir ini gue pilek-batuk nggak berhenti-berhenti. Hmm kenapa ya? Apakah karena gue terlalu berdosa sehingga Tuhan ngasih gue cobaan begini berat? Apakah karena gue belum sanggup ngebiayain orangtua gue naik haji? Atau apakah gue masih punya utang pulsa sama Citra? Hmm bukan, bukan. Gue (hampir) yakin banget kok utang pulsa gue udah lunas semua. Jadi alasan yang paling mungkin adalah karena kondisi cuaca yang sama sekali nggak mendukung. Panas-hujan terus menerus. Padahal gue termasuk orang yang jarang sakit loh. Gue orang paling sehat di keluarga gue. Hmm mungkin faktor lain dari cuaca adalah karena pola makan gue di sekolah. Di sekolah, gue makannya nggak terkontrol banget. Kalo di rumah kan nggak boleh makan ini-itu, makanan semua dijaga. Nah kalo di sekolah kan nggak ada yang ngelarang-larang.
Sumpah nggak enak banget pilek-batuk kayak gini. Di sekolah bawaannya narik inguus mulu. Kan nggak enak aja gitu kalo pas guru lagi serius nerangin, kelas sunyi pada merhatiin, gue malah sok asik mainin ingus gue di pojokan.
Srooot! Sroooot!! Asli Ini sama sekali nggak semerdu yang dibayangkan..

*narik ingus*

Tapi penyakit kecil kayak gini nggak membuat gue terpaksa pergi ke rumah sakit. Soalnya gue yakin banget ini bukan TBC (Tolak balaa! *ngetok-ngetokin tangan ke kayu*).

Terakhir kali gue ke rumah sakit untuk berobat adalah pas gue masih umur sekitar 3-4 tahun. Rumah gue waktu itu ada di Slipi. Gue inget banget, waktu itu gue sama kakak gue lagi main dorong-dorongan meja. Nah berhubung badan kakak gue lebih besar dari gue dan kekuatannya juga lebih besar, dia yang menang. Dia dorong meja terlalu keras sampe ujung meja yang terbuat dari kaca itu nyundul jidat gue. Jidat gue bocor. Gue inget wajah kakak gue langsung pucat banget, persis kayak orang yang lagi nonton sinetron pembunuhan. Gue nangis keras banget, gue yakin tangisan gue mampu menggetarkan hati para pejabat supaya nggak korupsi lagi. Kasian rakyat kan? Uang yang dikorupsi itu kan uang rakyat, tapi malah dipake untuk kesenangan pribadi. Suatu saat nanti kalo gue udah jadi Presiden, gue bakal bertindak keras untuk para pelaku korupsi gini. Gue nggak mau mereka cuman dikasih hukuman penjara beberapa tahun aja di sel penjara yang berfasilitas lengkap. Gue bakal naro tuh koruptor ke sel yang sama kayak tahanan lain. Dan dipenjara seumur hidup biar jera! *sumpah ini garing banget* *abaikan*

*back to main topic*

 Akhirnya orangtua gue segera bawa gue ke rumah sakit dan jidat gue pun dijahit. Sampe sekarang, saat gue udah berumur 16 tahun gini, bekas jahitannya masih ada.
Jadi berasa keren banget. Hueheheehehe

Wassalam

PS: doain gue biar cepet sembuh ya. nggak enak nih soalnya meler terus