Minggu, 20 Mei 2012

Jurusan Desain Interior

Buat yang masih SMA dan lagi galau-galaunya pilih jurusan di Perguruan Tinggi, atau buat yang tertarik sama Desain Interior tapi belum tau informasi apa-apa, mungkin postingan gue kali ini bisa jadi sedikit referensi. Cekibrott!
Pada umumnya, jurusan Desain Interior termasuk dalam Fakultas Seni Rupa dan Desain, namun pada beberapa universitas—Universitas Ciputra dan Universitas Indonesia, misalnya—jurusan ini termasuk dalam fakultas teknik. Gelar akademik yang akan kita dapat nanti setelah lulus (Strata 1) adalah S. Ars. Masa studi untuk jurusan ini adalah 8 semester dan terdiri dari 145 SKS (bisa kurang-bisa lebih, tergantung universitasnya).
Program studi Desain Interior
Program studi Desain Interior adalah salah satu bidang studi keilmuan yang diasarkan pada ilmu desain. Jadi disini kita bakal belajar tentang penataan, perancangan, dan perencanaan mengenai interior sebuah bangunan. Ada tiga hal utama yang jadi kajian dalam desain interior, yaitu ruang, alat dan manusia penggunanya. Jadi, kita nggak hanya sekadar asal-asal desain gitu doang, tapi kita juga memerhatikan penggunanya. Karena, desain yang kita buat itu juga mempengaruhi emosional penggunanya dan berbuntut pada produktivitas kerja. Jadi desain  kita nggak boleh hanya terpaku pada nilai estetikanya doang tapi musti harus mengoptimalkan nilai fungsinya juga, dan buat senyaman mungkin untuk para penggunanya.
Pengetahuan apa aja yang akan dipelajari?
·         Pengetahuan seni : estetika, drawing, sejarah desain.
·         Pengetahuan desain : elemen dan prinsip ruang, human factor in design, psikologi persepsi, psikologi lingkungan.
·         Praktik desain interior : programming, design process, presentasi dan komunikasi.
·         Pengetahuan pendukung : teknologi bangunan, material, fisika bangunan, lingkungan alam dan binaan, sosial, budaya, ekonomi.
Nah, dari info diatas, kita jadi tau kan kalo ternyata pinter desain aja nggak cukup. Kita juga harus pintar dalam mempresentasikan hasil desain kita kepada si pengguna (lihat yang gue underlined). Jadi segala ide-ide kita bisa tersalurkan dengan baik oleh si konsumen sehingga nanti bisa terjalin yang namanya kesatuan ide. Kalo udah gini, bisa dipastikan desain kita bakalan sukses dan tentunya si pengguna pun merasa puas dengan hasil karya kita.
Prospek kerja
Nah, sebelum niat kita bener-bener bulat pingin masuk sebuah jurusan, tentunya kita juga mikir-mikir dong tentang masa depan kita setelah lulus kuliah nanti. Masa udah capek-capek kuliah lama tapi ujung-ujungnya ilmunya nggak kepake dan nggak bisa bermanfaat (buat kita dan orang lain)? Sayang banget kan?
So, buat yang takut kalo desain interior prospeknya nggak bagus di masa depan, silahkan berpikir ulang. Karena ternyata banyak loh lapangan kerja di bidang Desain Interior!
·         Pelayanan jasa konsultan
·         Sebagai perancang desain interior mandiri dalam bentuk biro-biro konsultan desain interior atau bagian dari biro konsultan arsitektur
·         Penasehat ahli pada lembaga atau instansi pemerintah
·         Industri konstruksi, sebagai pelaksana pekerjaan interior atau sebagai pengawas pelaksana pekerjaan interior
·         Industri komponen penunjang interior, sebagai tenaga ahli pada industri-industri komponen interior, seperti : furniture, karpet, wall covering dan sebagainya.
·         Sebagai pengajar dan peneliti pada lembaga pendidikan pemerintah maupun swasta.
Daftar Perguruan Tinggi Jurusan Desain Interior di Indonesia
Buat yang penasaran tentang perguruan tinggi mana aja yang punya jurusan Desain Interior, ini gue kasih list nya!

NO
PERGURUAN TNGGI
ALAMAT
1
Universitas Indonesia
Jakarta
2
Institut Kesenian Jakarta
Jakarta
3
Universitas Trisakti
Jakarta
4
Universitas Bina Nusantara
Jakarta
5
Universitas Pelita Harapan
Jakarta
6
Universitas Tarumanegara
Jakarta
7
Sekolah Tinggi Desain Indonesia
Jakarta
8
Institut Teknologi Bandung
Bandung
9
Sekolah Tinggi Seni Rupa
Bandung
10
Universitas Maranatha
Bandung
11
Institut Teknologi Nasional
Bandung
12
Universitas Sebelas Maret Surakarta
Surakarta
13
Institut Seni Indonesia
Yogyakarta
14
Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta
15
Universitas Petra
Surabaya
16
Universitas Ciputra
Surabaya
17
Universitas Udayana
Bali
18
Institut Seni Indonesia
Yogyakarta



Semoga bermanfaat! :)

Sabtu, 19 Mei 2012

Antologi Rasa

“What if in person that you love, you find a best friend instead a lover?”
“We’re both just people who worry about the breaths we take, not how we breathe.”
Well, pertama kali ngeliat novel ini pada suatu suatu penghujung siang di bulan Mei di sebuah toko buku terbesar di Indonesia, sebut saja Gramedia (eh emang gramedia sih). Pertama kali liat novel ini, umm nggak ada yang special sih. Covernya standar aja menurut gue. Background coklat muda dengan gambar jantung yang bahkan nggak diletakkan di tengah-tengah (oke, bukan berarti kalo ditaro di tengah hasilnya bakal lebih baik, tentunya sang illustrator lebih paham ginian daripada gue yang soktau ini). Gue bukan penganut pepatah “Don’t judge a book by its cover,” maksudnya, gue mesti naksir dulu sama sampulnya sebelum kemudian gue balik tuh buku dan baca sinopsisnya. Tapi kali ini gue iseng aja balik tuh buku dan baca apapun tulisan di belakangnya.
Baca sinopsis belakangnya, gue udah bisa kebayang ini cerita tentang cinta dalam persahabatan. Tema yang sudah sangat menjamur di dunia pernovelan Indonesia. FYI, gue bahkan udah punya 3 buku— belum termasuk yang ini—yang punya tema yang sama. Nah jadi intinya, passion gue masih flat-flat aja. terus gue iseng baca komen-komen dari beberapa blogger dan penulis yang dicantumin di belakang novel ini, and of course—komen positif semua. Logikanya, novel jelek nggak mungkin kan bisa dapet komen-komen luar biasa dari sesama penulis, blogger dan bahkan sutradara? Dari sini ekspektasi gue meningkat pesat. Terus gue perawanin aja tuh novel; sampul plastiknya gue sobek dengan bejat untuk kemudian dengan nistanya gue sumpelin aja diantara novel-novel yang lain (oh tentunya tanpa sepengetahuan para karyawan Gramedia, nggak tau deh kalo CCTV). Gue baca memindai tuh novel. Sekedar pengen tau gimana gaya bahasa si penulis. Karena menurut gue, dalam menulis novel, hal paling penting adalah bagaimana cara dan gaya sang penulis dalam menuturkan ceritanya. Cerita sesederhana apapun kalau penyampaiannya bagus dan menarik, maka hasilnya akan luar biasa. Dan sejauh ini teori gue belum pernah salah. *senyum miring*
Minus latar belakang kehidupan urban glamour yang metropolis nan hedonis di novel ini (mungkin ini memang real life di kota metropolitan), gue sangat menyukai buku ini. gue jatuh cinta sama cara penulisannya.
Dengan Point of View yang disajikan berbeda-beda, pembaca diajak menyelami jalan pikiran dan emosi masing-masing tokohnya (two thumbs up buat Ika Natassa—the author). Dan gue sangat suka itu, apalagi twist nya banyak dan sukses bikin gue cekikikan sendiri, hehe. Dan lagi, ini bukan tipe novel yang cengeng (yeah walaupun gue sempet netes juga pas baca ini :p hehehe).
Oh iya, buat yang gila belanja, mungkin novel ini bisa dijadikan semacam acuan kali ya, banyak branded thing dan banyak informasi lokasi yang asik buat shopping. Siapa tau bisa buat nambah pengetahuan, hehehe :p
butt…. Endingnya agak gantung. tapi entah mengapa, justru itu yang membuat gue ngerasa novel ini keren :)
Nah, oke, jadi buat yang penasaran sama jalan cerita novel ini, gue bikinin review nya. Cekidottt!
#np Count on me – Bruno Mars

Novel ini bercerita tentang 4 banker yang udah sahabatan selama kurang lebih 3-4 tahun (CMIIW, ntar gue tinjau lebih lanjut deh). Tak kenal maka tak sayang, jadi monggo kenalan dulu sama karakter-karakternya utamanya..
Meet Harris Risjad. The most eligible—hot damn bastard—Bachelor in Jabodetabek (“kalo nggak percaya, silahkan tanya pada semua wanita di kontak hape gue”—he said). Harris adalah pria tengil yang kebetulan punya tampang handsome dan perut six pack, jadi no wonder ya kalo dia digilain sama kaum hawa dan bukan kebetulan kalau mantannya ternyata hampir seratusan (ewww..) Penggila F1 ini tipe orang slengean tapi pembawa keceriaan, boleh kita bilang kalo dia ini memang adorable. Dia bakal ngelakuin dan relain apapun buat gadis pujaannya yang ternyata malah jadi sahabatnya.. Keara.
Keara. The Party girl yang doyan shopping dan fotografi. Sama sekali bukan tokoh utama favorit gue, kadang gue malah muak sendiri sama gaya hidupnya (pendapat orang nggak bisa dipaksakan, kan?) walau kadang di lain sisi gue suka sama kepribadiannya. Tadinya gue berharap fan John Mayer yang sangat sangat classy ini adalah gadis yang lebih baik-baik (minimal masih virgin deh—bukannya gimana-gimana, tapi gue emang sangat menjunjung tinggi yang satu itu), tapi harapan gue meleset sama sekali. Bisa dibilang Keara ini versi ceweknya si Harris, tapi tentu aja dia nggak setengil Harris. She endlessly loves her true love, Rully.
Rully Walantagama. The perfect husband figure. Dia jauh dari sosok tengilnya Harris. Workaholic, nggak minum-minum dan nggak suka party. Dan gue rasa dia juga cukup alim (gue suka momen pas dia sholat subuh sendirian di ruang tamu sementara 2 sahabatnya hangover habis party. So ironic.) Kesamaannya dengan Harris: sama-sama good looking dan sama-sama tergila-gila sama F1. Yang gue nggak suka dari Rully? Dia pasif—bukan tipe cowok penuh inisiatif dan dia lebih suka berada di safe zone. Cowok yang ingin jadi atlet sepakbola ini mencintai salah seorang sahabatnya yang sayangnya sudah menjadi istri orang, Denise.
Singkat ceritaaaaa..
Harris dan Keara liburan ke Singapura untuk nonton F1. Sebenarnya Keara ogah banget ke Singapura selama beberapa hari cuman buat nonton F1 mengingat harga tiketnya yang gila-gilaan, hampir menyamai harga satu unit motor! (Imagine that! I had rather buy some stuff than buy that shitty ticket!) Satu hal yang membawanya kesana adalah karena ada Rully—yang nyatanya justru nggak jadi ikut karena Denise sakit di rumah sakit (lah iya, masa sakit dibawanya ke rumah makan? -_-).
Berbanding terbalik dengan Harris yang menganggapnya sebagai karunia karena akhirnya bisa pergi berduaan dengan Keara, ke luar negeri bahkan—walau sama sekali bukan nge-date dan jauh dari kata romantis.
Selama beberapa hari di Singapura, si Keara ini nggak berhenti- berhenti mikirin si Rully. Tiap hari kerjaannya galau mulu, untungnya ada Harris yang selalu bikin dia ketawa terus, bikin dia lupa sejenak tentang Rully.
Di hari terakhir mereka di Singapura,  sebuah insiden terjadi diantara dua sahabat itu. Sebuah kesalahan. Kesalahan yang mampu membuat persahabatan mereka runtuh dalam sekejap. Kesalahan fatal yang membuat Keara benci setengah mati kepada sahabatnya sendiri. Kesalahan fatal yang membuat Harris bersumpah akan merelakan apapun agar waktu bisa diulang kembali, melakukan apapun agar gadis disisinya itu mau memaafkannya..
Intinya, kesalahan terbesar dalam hidup mereka.
Singkatnya, semenjak kejadian itu,hubungan mereka tidak pernah sama lagi. Harris selalu berupaya serta membujuk Keara agar mau memaafkan dirinya—atau setidaknya mau mengindahkannya. Namun setiap itupula Keara tidak memedulikannya dan hanya memberinya sorot penuh kebencian. Melihat Harris hanya membuatnya sakit hati. Keara belum pernah merasa sangat dikhianati seperti itu. sementara Harris, dia merasa berada di titik terendah dalam hidupnya. Apa yang lebih menyakitkan daripada dibenci setengah mati oleh orang yang dicintai sepenuh hati?
Keara kembali termehek-mehek oleh sosok Rully. Sadar bahwa Rully tidak akan bisa diraihnya, dia merasa harus benar-benar move on. Sudah cukup 3 tahun mencintai orang yang tak akan mungkin balik mencintainya—atau bahkan sekedar tau perasaannya.
Salah seorang sahabatnya menyarankan agar dia memulai hubungan yang baru agar bisa move on dari Rully dan agar bisa melupakan kebenciannya dengan Harris. Keara setuju saja. Akhirnya dia memulai hubungan tanpa status—atau apapun itu istilahnya—dengan seorang womanizer yang bernama Panji.
Panji adalah adik dari Panca—suami dari sahabatnya Keara. Panji terkenal dengan predikat playboynya, tapi justru itulah yang membuat Keara setuju untuk main flirting-flirtingan dengannya. Keara tidak butuh pengakuan cinta, pun Panji. Mereka hanya menganggap hubungan mereka sebagai sebuah game. Keara hanya berharap dengan memulai hubungan—atau apapun itu namanya—dengan Panji, bisa membantunya bersenang-senang dan sejenak melupakan patah hatinya. Dia juga tidak berniat mengadakan hubungan serius dengan Panji, karena dia sama sekali tidak mau terlibat dalam masalah perasaan. Sudah cukup dia dipermainkan cinta!
Sementara Harris, pria matang dengan sejuta pesona yang dimilikinya, sontak menjadi banci perasaan. Semua predikat yang disandangnya runtuh seketika. Hanya karena seorang wanita, Keara, si PK satu ini insyaf dalam sekejap. Selama Keara tidak memedulikannya, selama itu pula dia tidak memedulikan wanita lain. The new Harris sama sekali berbeda dengan Harris sebelumnya (dan gue pribadi sangat suka sama Harris yang baru ini). Harris yang lebih menghargai wanita, Harris yang setia, Harris yang jatuh cinta sedalam-dalamnya pada seorang gadis yang bahkan untuk menatapnya saja tidak sudi. Gue sebut ini karma.
Rully? Masih dengan mimpinya menikahi gadis yang sudah menjadi istri orang lain. Setiap kali Denise mengadu dan menangis karena ulah suami brengseknya, setiap kali itu pula keinginan Rully untuk melindungi Denise bertambah. Dia sangat menyayangkan kenapa justru laki-laki brengsek yang tidak tahu diuntung itu yang menikahi Denise, bukan dirinya. Dia selalu ingin mengatakan kepada Denise, “lihat gue, tolong lihat gue sekali aja sebagai lelaki yang mencintai elo apa adanya. Sepenuh hati. Dan gue berjanji akan selalu membahagiakan elo selamanya.” Namun apa daya, faktanya dia hanya harus bersikap gentle dan memposisikan dirinya sebagai seorang sahabat.
Lalu beberapa bulan kemudian, Rully dan Keara ditugaskan bersama oleh kantor mereka sebagai satu tim. Rully, Keara, dan anggota tim lainnya ditugaskan di Bali. Selama di Bali, hubungan mereka berdua semakin dekat. Keara yang sudah setengah jalan dalam proses move on nya, kini diseret paksa dari awal. Kedekatannya dengan Rully sekarang kembali membuat hatinya jungkir balik. Perasaan yang sudah dikuburnya dalam-dalam selama hampir 1 tahun sejak kepulangannya dari Singapura itu kembali menyeruak ke permukaan. Rully selalu mengingatkannya pada sosok ayah yang sudah lama tidak dimilikinya. Rully yang lembut, Rully yang dewasa, Rully yang penuh kehangatan.
Sementara Rully? Kebersamaannya dengan Keara selama di Bali, membuatnya sedikit membuka mata. Selama di Bali, dia menemukan sosok Keara yang lain. Rully sadar bahwa selama ini dia belum cukup mengenal kepribadian Keara. Keara yang dikenalnya dulu hanyalah gadis ceria yang sangat suka menghambur-hamburka uang, tapi sekarang? Penilaiannya terhadap wanita itu bertambah. Keara yang mencintai anak-anak, Keara yang penuh perhatian, Keara yang lebih mementingkan orang lain daripada diri sendiri.
Sepulangnya mereka berdua dari Bali, tidak ada yang berubah dengan status mereka, hanya saja hubungan mereka semakin dekat. Dan still, Keara tetap menjalani ‘hubungan’ dengan Panji. Terkadang tingkah Panji yang penuh perhatian seringkali menggelitik perasaannya, namun Keara hanya menganggap semua itu masih dalam kategori permainan flirting Panji.
Sampai suatu ketika, Panji menyatakan perasaannya. Panji, yang awalnya mengira bahwa hubungannya dengan Keara tidak akan melibatkan perasaannya—sama seperti hubungannya dengan wanita lain sebelumnya, kini harus menelan bulat-bulat pernyataannya. Kebersamaannya dengan Keara, walau hanya sekadar menemaninya belanja, dinner bersama, dan hal-hal lainnya ternyata mampu menumbuhkan benih-benih cinta dalam hatinya.
Keara, yang sadar bahwa dirinya hanya mencintai Rully seorang, menolak perasaan Panji karena dia tidak meu menyakiti Panji lebih lanjut. Dan kemudian, #tadaa berakhirlah game mereka. sad ending. Pemenangnya? Mungkin Keara.
Harris yang sempat bersyukur karena hubungan Keara dan Panji berakhir, kini harus menelan kembali suka citanya. Kini yang manjadi lawannya memang bukan Panji, melainkan sahabatnya sendiri. Rully.
Ya, Rully dan Keara jadian.
Selama setahun penuh Keara tidak memedulikan Harris, kini Harris bisa kembali melihat Keara yang tersenyum padanya. Keara yang terlihat benar-benar bahagia. Glowing seperti itu hanya dimiliki oleh orang sedang jatuh cinta. Harris hanya bisa tersenyum miris. Dia senang melihat Keara bahagia, dia senang melihat cinta Keara ternyata tidak bertepuk sebelah tangan. Namun disisi lain, hatinya pedih.
Setiap kali mereka berempat—Keara, Harris, Rully, Denise—mengadakan dinner bareng seminggu sekali, setiap kali Keara dan Rully menunjukkan kemesraan mereka, setiap kali itu pula hati Harris terasa seperti ditinju Mike Tyson berkali-kali, dan kemudian dia harus siap-siap menyembunyikannya dengan menampakkan senyum lebarnya. Senyum terbaik yang bisa diupayakannya. Terkadang orang dengan senyum paling lebar adalah aktor paling baik, bukan begitu? Begitupula Harris, berbekal dengan senyum lebar palsunya, dan tawa renyah terpaksanya, dia terlihat seperti orang yang bahagia, sementara hatinya mengais-ngais pilu. Cinta oh cinta, kenapa kau begitu tega?? *emot ngais jantung*
Rully, yang mengira dengan memulai hubungan dengan Keara akan berdampak dengan terdepaknya Denise dari hatinya, ternyata salah total. Rully memang menyayangi  Keara. Sangat menyayangi bahkan. Namun rasa sayangnya terhadap Keara ternyata tidak mampu membuatnya mencintai wanita itu. Ternyata Keara tetap tidak mampu melengser posisi Denise dari hatinya.
“I can’t win this game, can I rul?”
Satu kalimat yang membuat hubungan Keara dan Rully yang baru seumur jagung harus kandas di tengah jalan. Rully memang memperlakukan Keara dengan baik, like a gentleman does. Tapi Keara juga sangat tau bahwa Rully masih mencintai Denise. Sekuat apapun pria itu berusaha menyangkalnya. Dan hal itu membuat Keara sakit hati. Dia memang tidak akan pernah memenangkan hati Rully. Sekarang, atau mungkin selamanya.
Sudah lewat tengah malam ketika Harris menatap layar ponselnya dan nama Keara berkedip-kedip di layarnya. Keara menceritakan tentang hubungannya yang kandas dengan penuh isakan. Ada pepatah mengatakan, “If you make a girl laugh, she likes you. But if you make her cry, she loves you.” Sekarang pepatah itu menjadi sangat jelas untuk Harris.
Harris memposisikan dirinya sebagai sahabat terbaik Keara. Mempersiapkan lelucon untuk menghibur Keara dan mempersiapkan bahunya apabila gadis itu ingin menangis. Mungkin masih sangat jauh dari harapannya bahwa Keara akan bisa memaafkannya. Mungkin masih sangat jauh dari harapannya bahwa Keara akan bisa melupakan kesalahannya dulu. Tapi sekarang, melihat gadis itu bearada disisinya, tetap saja membuatnya tersenyum.  Mungkin Harris belum bisa menjadi orang yang dicintai Keara, mungkin Harris belum bisa membuat Keara melupakan perasaannya kepada Rully—lucky bastard, tapi sekarang, dengan menjadi sahabatnya, dia merasa bisa memiliki Keara secara utuh. And for now, it is enough. It is enough..
“Udara hanya sesuatu yang gue butuhkan untuk bernapas. Tapi elo, the whole essence of your existence, adalah satu-satunya yang gue butuhkan untuk hidup.” – Harris Risjad

Rabu, 16 Mei 2012

Surat Cinta Bapak B.J Habibie

Huee ini salah satu surat cinta paling unyu yang pernah gue baca! asli, isinya manis banget. surat ini ditulis oleh Bapak B.J Habibie untuk istrinya tercinta, Ibu Ainun. he's truly a romantic guy! kalo Bu Ainun sempet baca surat ini, gue bertaruh dia bakalan netesin air mata sambil sujud syukur karena diberi suami sebaik Pak Habibie :)
cekidot brohhh! :)


Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu, karena aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti.
Dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu. Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati. Hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.
Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.
Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada. Aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.
Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu, sayang. Namun tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih terbaik. Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.
Selamat jalan, Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya.
Kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.
Selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku.
Selamat jalan, calon bidadari surgaku.
-BJ. Habibie-

*narik ingus*

Kamis, 03 Mei 2012

Kartini suram

“ibu kita Kartini… putri sejati.. putri Indonesia.. harum namanya……”
itulah sepenggal bait pertama dari lagu wajib nasional kita yang berjudul Ibu Kita Kartini. Gue nggak perlu nulis liriknya full karena gue yakin kalian sebagai warga Indonesia yang (hampir) budiman, so pasti udah pada tahu semua itu lanjutannya apa. Lagu yang menggambarkan usaha Kartini dalam memperjuangkan emansipasi wanita, sehingga namanya pun mendapat tempat yang layak dalam torehan sejarah. Kalo kalian nggak percaya, silahkan bongkar lagi buku IPS jaman kalian masih SD, gue jamin nama Kartini tertulis beberapa kali disana. #okesip

Daaaan… bukan, bukan, dalam postingan kali ini gue bukan lagi mau bedah lagu, bukan pula mau membahas nama Kartini yang konon memiliki nama asli Indah (nggak percaya? ada dalilnya kok, tertulis dalam lirik lagunya, ‘harum namanya..’ hehehe :p) dan bukan pula bercerita tentang perjuangan Kartini (baca: Indah). Bukannya apa, gue cuman nggak mau Wikipedia dan buku-buku sejarah kehilangan para konsumennya karena semuanya udah pada hijrah ke blog gue untuk menilik kisah hidup para pejuang bangsa (in this case, Kartini (baca: Indah)). Yahh..Kasih kesempatan buat yang lain lah istilahnya. Percaya deh, untuk urusan histori ada tempatnya sendiri *senyum cool*

Faktanya, postingan kali ini gue akan bahas pengalaman kartinian gue (baca: 21 April 2012). Oke, gue tau tema postingan gue sangat-sangat out of date, secara gue posting ini udah sangat lewat dari hari H, but who cares? Toh kalian baca juga, hehe :p
hmm, berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, sebenarnya gue nggak punya cerita yang special. Menurut gue malah even Kartinian terasa agak boring dan gue berasa ada di salah satu episode sinetron naga-naga. Tau kan? Sinetron naga-naga (baca: sinetron siluman) biasanya dipenuhi sama para artis dan aktor berbusana adat dan settingannya pun bernuansa keraton. Misal adegan Jaka Tingkir naik elang (bisa juga naga, kalajengking, ular, atau ubur-ubur. Tergantung selera masing-masing) menembus awan dan landing di kahyangan untuk menolong gadis cantik yang (lagi-lagi) berpakaian adat (jawa), dari cengkeraman raja siluman yang selalu memegang tongkat-norak-yang-memancarkan-cahaya-colourful-menyilaukan. Gue kurang paham itu cahaya senter, lampu disko, atau laser kayak di Star Wars, yang jelas tuh cahaya bisa memukul mundur sang jagoan yang lebih mengandalkan kekuatan ka-me-ka-me-ha.
Oke, back to main topic! Well, salah gue sendiri sih sebenernya kenapa nggak ikut berpartisipasi makanya tuh even di mata gue nggak bagus-bagus amat citranya. Nah, berhubung gue udah nge-judge duluan kalo Kartinian bakal membosankan, maka gue pun nggak masuk sekolah. Oh iya FYI, Hari Kartini yang seharusnya bertepatan pada tanggal 21 April, di sekolah gue ngadain acaranya ngaret seminggu, yakni 28 April (2012).
Daaaan… tanggal 28 April itu pula menjadi hari penyesalan buat gue sekaligus hari suka cita para temen-temen gue. Tanya kenapa??
Hmm oke, gue ajak flash back sedikit. Masih inget Kuda? Iya, kuda yang pernah gue bahas di postingan gue sebelumnya (obviously bukan kuda delman apalagi kuda goyang di Insidious). Adek kelas paling most wanted di sekolah gue. Guy-to-die-for! (ah elahh lebay banget gue).
Nah, kebetulan si Kuda ini jadi Kartono (baca: Pandu a.k.a Aliff Ali) di kelasnya, dan salah satu teman sekelasnya yang paling cantik (serius, ini cewek emang cantik banget!) jadi Kartini (baca: Indah a.k.a Irish Bella) nya. Sekilas pasangan ini terlihat seperti Adam dan Hawa, Romeo dan Juliette, Arjuna dan Srikandi, ataupun Brad Pitt dan Angelina Jolie. Habis perfect couple banget!! Yang satu super growo dan yang lainnya super grewe.
temen gue yang bawa SLR bahkan nge-take foto mereka berjuta kali pas mereka show (baca: peragaan dan unjuk bakat). Baru jalan—klik, selang dua detik—klik, dua detik kemudian—klik, dua detik setelahnya—klik, dan seterusnya. Pokoknya nggak lebay lah kalo gue bilang ratusan kali, lebay itu kalo gue bilang jutaan kali (eh tadi gue tulis yang mana ya?)
Gue yang liat hasil-hasil fotonya aja jadi puyeng sendiri. Kalo diliat dari depan ke belakang, tuh foto persis lagi gerak shuffle -___-

Nah, BTW kelas mereka juara 3 untuk peragaan dan unjuk bakatnya. Gue rada nggak terima! Kelas mereka kan cuman baca puisi doang unjuk bakatnya! Mana si Kuda baca puisinya kayak lagi bisikin tomcat lagi, volumenya ituloooh kecil banget. Sedangkan kelas gue tari bali+nyanyi. Lagipula kelas lain banyak yang lebih bagus kok (kata temen gue loh).
Nah, daripada gue jadi ngomel-ngomel sendiri, kita lanjutin yang tadi..
setelah mereka (Kuda dan pasangan CANTIK!!nya) selesai unjuk bakat, mereka mau balik ke kelasnya. Kebetulan banget ngelewatin koridor kelas gue. Nah berhubung kelas gue banyak tante-tantenya (plis jangan langsung bayangin tante girang dan rekan-rekannya, karena faktanya yang gue maksud disini justru gadis-gadis manis nan luthu), so pasti mereka (para auntie) langsung heboh—berasa mau didatengin JB atau Mario Maurer, kelimpungan kesana-kemari, beberapa ada yang menjerit-jerit histeris lalu pingsan -___-
oke lupakan, gue bohong soal pingsan dan sebagainya. berhubung yang mau lewat bukan Mr. Bieber maupun Mario Maurer, maka reaksinya pun berbeda juga. Temen-temen gue justru pasang tampang sok cool dan penuh harga diri.

“tap…tap…tap…”

suara langkah sejoli mendekat. Temen-temen gue masih sok pasang tampang penuh harga diri, beberapa ada yang sedang mengheningkan cipta, namun ada satu orang yang berbeda! Tatapannya liar dan wajahnya memerah. Beberapa temen gue yang lain sudah khawatir doi bakalan lari menyongsong sejoli karena tak kuasa menahan gejolak rasa. Belakangan gue tau, ternyata dia lagi nahan boker.. ah sial, jayus banget gue -_- *kabur*
Lupakan soal doi yang lagi nahan boker, kembali ke sepasang sejoli yang semakin mendekat.
Intinya, setelah pasangan sejoli itu benar-benar sudah dekat, temen-temen gue langsung nyongsong mereka. Jangan bayangin nyongsong disini seperti para rakyat yang menyongsong sang Raja, sumpah itu terlalu anggun dan berwibawa, sedangkan nyongsong disini lebih tepat tergambar seperti sekawanan hyena yang kelaparan lalu melihat mangsa! Wajah unyu temen-temen gue langsung berubah biadab -____-
Beringassss wooooyyyyy!!!!

Temen gue langsung nempel-nempel gitu ngajak foto. Pertamanya sih si Kuda nolak, gue kurang paham juga ya itu nolak karena dia sok jual mahal atau nolak karena dia ketakutan kemudian kepecirit, yang jelas pertamanya dia nggak mau. Tapi temen gue dengan jurus sejuta gombalan akhirnya bisa meluluh lantakkan pertahanan batin sang Kuda. Daaaan…. Terjadilah foto-foto biadab itu! temen-temen gue, sekitar 6 orang masing-masing antri giliran foto bareng Kuda. Yaampun nih Kuda berasa artis beken aja -__- untung tuh koridor kelas gue lagi sepi-sepinya, jadi malu yang ditanggung nggak banyak hahaha. Salah satu temen gue, sebut saja Mirnah (nama sebenarnya adalah Citra) sampai take foto 4 kali!! 4 KALI!! Bayangin aja! rasanya gue pengen teriak di depan hidung nya,
“WOOOY HARUSNYA GUE YANG DISANA BUAT FOTO PRE WEDDING!”
tapi itu nggak mungkin banget mengingat saat itu gue justru sedang leyeh-leyeh nonton TV di rumah, sama sekali nggak punya firasat kalo calon suami gue sedang dianiaya temen-temen gue sendiri -___-

oh oke, itu lebay. Gue akuin kok ._. tapiiii…. Tetep aja gue nyeseelll, huaaaaa mestinya kan gue datang aja gitu siapa tau bisa kebagian foto bareng juga (lah kok jadi mendadak ganjen gini -__-)
iya, jadi suatu hari nanti kalo misalnya si Kuda ini jadi selebrity papan atas atau mungkin jadi the most eligible bachelor, atau siapapun dia yang jelas dia udah jadi orang sukses gitu, dan kebetulan gue sudah menikah dan punya anak, dan pas banget si Kuda itu lagi nongol di layar kaca, gue bisa berkesempatan ngomong sama anak sulung gue,
"sayang, tau nggak, Oom yang di TV itu pacar mama pas SMA loh (plis deh, bohong sedikit juga nggak papa kali)." lalu anak gue menyahut, "Mama ada-ada aja, itu kan Papa mana buktinya?." lalu dengan bangganya gue bisa menunjukkan foto masa SMA gue dengan si Kuda. #plak
hahaha oke, gue becanda aja. nggak mungkin lah gue bilang gitu ke anak gue, gue kan mau jadi contoh ibu yang baik buat mereka (mereka?? iya, anak gue ntar lebih dari satu kok. mungkin tiga. hihi).

oh iya, BTW, gue nggak tau nasib pasangannya si Kuda. Mungkin dia cuman bisa natap pasrah aja ngeliat Kartononya diambil paksa. Habis mau gimana lagi? Mau direbut balik tapi kalah sangar. Cabal ya, cantik, tolong maklumi para kakak kelasmu ini, kartinian terakhir niih :*
Oke, sebenarnya sih nggak masalah toh gue nggak naksir Kuda kok. Tapi masalahnyaa.. Not fair! Gue kan yang duluan ngefans sama Kuda kenapa temen-temen gue yang dapet bonus untungnya? Sedangkan gue, paling banter cuman pernah ngomong sama dia sebentar doang, itupun dulu banget.. tisu mana tisu..?
Hmmppff…… alhasil gue cuman bisa liatin foto-foto temen-temen gue aja dengan wajah mupeng, sedangkan temen-temen gue ketawa-ketiwi pamer sambil panas-panasin gue. Kipas mana kipas..?


Nb: Feeling gue, si Kuda sama pasangan kartininya itu saling suka deh. Pas peragaan, mereka gandengan tangan kayak pake perasaan gitu (temen gue yang bilang!). Hmm it’s okay, lagian gue akuin kalo mereka cocok. Si cewek adalah yang terbaik untuk cowoknya dan si cowok adalah yang terbaik untuk ceweknya. Yahh walaupun gue sendiri agak-agak nggak rela sih hehe (lah emang gue siapanya? Fansnya. #okesip). Nah pokoknyaaa, kalo mereka beneran jadian, siap-siap aja bakal banyak hati yang akan patah berserakan ‘kretek-kretek’ </3 Ha! Girls, watch out your heart!! Pegangin tuh kuat-kuat biar patahnya nggak kedengaran! (plis deh, gue berasa ngomong sama diri sendiri ._.)