Jumat, 21 Desember 2012

21-12-12 : Antara Kiamat dan Bagi Rapot


Setelah terbukti kalau ramalan suku maya bahwa tanggal 12-12-12 adalah akhir dari dunia—yang muncul isu baru yang tidak kalah mendebarkan, bahwa tanggal 21-12-12 akan terjadi kegelapan total di Bumi selama tiga hari! Dan beberapa berpendapat bahwa pada tanggal itulah kiamat sebenarnya terjadi.

Well, beberapa hari yang lalu saat isu tersebut masih santer diperdengarkan, gue bukannya sok mau bilang kalau gue nggak khawatir sama sekali mentang-mentang tanggal segitu udah lewat and nothing happened, tapi faktanya gue emang nggak gitu-gitu amat sampe ngerasa kalau hal itu emang patut di super-khawatirkan. Maksud gue, yeah, walaupun yang bilang kalau tanggal 21-12-12 bakal terjadi gerhana matahari yang membuat kegelapan total di bumi emang bukan orang sembarangan alias memang orang yang ahli di bidangnya, gue tetep ngerasa kalau masih ada hal yang lebih penting yang patut dicemaskan diatas segala-galanya—rapot misalnya.

Ya, rapot.

Buat pelajar yang ngerasa-tidak-cukup-pintar-dan-sangat-khawatir-dengan-hasil-rapotnya, gue tahu lima huruf tersebut udah sudah cukup horror untuk diperdengarkan. Contoh keparnoan beberapa pelajar adalah dengan memutuskan untuk menyerahkan hak mengambil rapot kepada selain kedua orang tuanya (bukan berarti gue menjudge kalau semua murid yang diambilin rapotnya sama orang lain adalah pelajar yang-gue-jelaskan-dengan-banyak-garis-garis-seperti-ini-ya!)

Semalam, saat gue lagi di puncak kecemasan menghadapi hari H, tiba-tiba temen gue yang H-1 masuk sekolah dan sempet liat peringkat nilai di kelas ngabarin kalau gue peringkat lima besar! Gue panik saking girangnya dan gue mastiin kemana-mana kalau info temen gue itu bukan sekedar hoax!

Pokoknya gue seneng banget deh, sampe tanpa malu-malu gue loncat-loncat sambil teriak-teriak ke ibu gue di depan pintu kamar mandi (kebetulan pas itu ibu gue lagi mandiin adek gue yang masih kecil), seriously.

Oke, buat yang ngerasa dirinya jenius dan sekarang lagi ngeliat sinis blog ini sambil ngedumel dalam hati,
“idih, pasti ini anak bodoh—atau minimal nggak pernah ranking, sampe-sampe lima besar aja dibesar-besarkan alias lebay,”

ah, kalian kejam sekali *ngurut dada*. 
Oke, emang sih, gue emang nggak pernah ngerasa cukup pintar (bukan berarti gue ngerasa gue idiot, ya), tapi setidaknya, selama di SMA ini gue nggak pernah ngerasa nilai rapot gue kelewat mengecewakan—setidaknya buat gue sendiri.

Dari kelas satu SMA gue nggak pernah lepas 10 besar :)

buat yang ngerasa jenius dan rajin 3 besar, mungkin ini bukan apa-apa buat kalian. Tapi buat gue yang ngerasa otak gue pas-pasan buat survive diantara temen-temen gue yang rata-rata pada pinter, ini sebuah pencapaian.

Sepanjang kelas satu, dua semester berturut-turut gue peringkat 8.buat gue yang saat itu masih dilanda euphoria masuk SMA, gue hampir mati saking girangnya.

Puncaknya adalah gue masuk kelas IPA (batal dapet jaminan uang 100% dari Ganesha Operation nih, pffft) dan pada semester satu, gue bener-bener khawatir atas keselamatan nilai-nilai gue di rapot—khususnya fisika, oleh karenanya, gue sampe nazar bakal puasa satu bulan penuh kalau nilai fisika gue di rapot adalah Sembilan, dan puasa satu minggu kalau nilai gue delapan.

Thank God, saat pembagian rapot, ternyata nilai fisika gue delapan puluh pas!!!!
sumpah gue seneng banget! Alhamdulillaaaaaah :)
dan gue pun menjalani masa puasa nazar gue yang seminggu penuh itu dengan riang gembira :)

Pada kelas dua semester dua, gue bener-bener terobsesi untuk meningkatkan nilai-nilai gue—berhubung gue sangat mengincar jalur undangan ke universitas negeri (yang tiketnya adalah nilai rapot dari semester tiga sampai lima harus terus meningkat).
berhubung semester dua diawali di awal tahun baru 2012, maka tercetuslah RESOLUSI 2012!
untuk mendukung Resolusi 2012 gue yang intinya adalah meningkatkan nilai-nilai gue, gue membuat “Rapot Bohongan” yang isinya persis seperti kertas rapot sekolah gue. Gue buat daftar mata pelajaran gue sesuai dengan urutan di rapot semester satu dan gue buat berikut nilai-nilai yang gue targetkan. Tentunya dalam hal ini gue nggak sekedar mencantumkan nilai yang gue inginkan, tapi nilai yang gue rasa mampu gue capai kalau gue bener-bener mau berusaha.

Nilai-nilai pun gue susun (btw, “Rapot Bohongan” gue ditulis manual dengan font besar dan tinta spidol warna-warni).

Dan Rapot Bohongan gue pun terpajang manis di dinding kamar gue. Sengaja gue tempel se-strategis mungkin—di sisi dinding depan ranjang gue, sehingga kalau gue bangun dari tempat tidur ataupun beranjak tidur, mata gue akan langsung bersitubruk dengan rapot gue yang ditempel sejajar mata gue.

Sadar atau nggak, Rapot Bohongan sangat berjasa dalam kehidupan anak sekolahan gue.
Di saat-saat gue kehilangan semangat buat belajar dan sekolah, atau mungkin gue lagi sebel banget sama mata pelajaran tertentu berikut gurunya, mata gue akan langsung menangkap Rapot Bohongan gue, dan secara otomatis pikiran gue akan langsung kembali diduduk-maniskan pada target awal gue.

Gue harus masuk jalur undangan!!

Walaupun begitu, tetep aja kebiasaan buruk gue dari SMP dalam memghadapi ulangan tetep nggak berubah : SISTEM KEBUT SEMALAM!

Ah, ya, gue yakin bukan gue aja yang punya bad habbit kayak begini :p

Bagaimanapun, setiap menghadapi ulangan, gue tetep kelimpungan seperti biasa pada malam harinya. Tapi gue tetep merasa ada peningkatan—sekecil apapun. Misalnya dalam menghadapi mid semester yang soalnya essay (sebelumnya selalu multiple choice) yang dimana gue sangat sadar bahwa gue tidak bisa mengharapkan siapa-siapa kecuali diri gue sendiri (bukan berarti sebelumnya gue selalu ngarapin orang ya!), gue belajar dari selesai maghrib sampai lewat tengah malam! Puncaknya pada saat menghadapi ulangan fisika, gue belajar sampai jam 3 pagi!! (walaupun—yeah, jujur saja—banyak selingannya, hohoho. Mana mungkin otak gue mampu diforsir 8 jam penuh tanpa break padahal faktanya otak manusia memang tidak mampu berkonsentrasi penuh selama berjam-jam tanpa relaksasi setiap jeda 45 menitnya. Ah, gue emang ngeles, tapi btw, itu fakta kok, hehe)
sumpah, itu hal yang nggak pernah gue lakukan sebelumnya seumur hidup.

Oke, intinya, pas bagi rapot, gue dapet peringkat TIGA!!

Gue bangga bukan main!! Sebelumnya gue emang sempet hopeless mengingat temen-temen gue banyak yang pintar—yang berarti kompetisi semakin sulit dan gue nggak bisa mandang mereka hanya dengan sebelah mata (bisa-bisa malah mereka yang mandang gue sebelah mata!), namun kenyataan itu tidak berarti kalau gue melupakan target gue.

Dan akhirnya—gue ulangi sekali lagi—gue dapet ranking tiga! Dengan nilai terbaik sepanjang sejarah rapot gue di SMA!

Dengan nilai yang sama persis seperti RAPOT BOHONGAN gue!!

Luar biasa.

Dan tak lupa, ALHAMDULILLAH. Tentunya semua itu nggak akan terjadi tanpa sabotase tangan Tuhan :)

Ah pokoknya selama hampir seminggu, gue masih shock. Dan speechless. Dan menganggap semua adalah mukjizat atau mungkin kebetulan belaka (walau Ibu gue selalu bilang kalau tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini). Yeah, walaupun sebenarnya nilai Elektro lah yang berperan sangat besar dalam kedudukan rapor gue (big thanks to Mr. Mur!).
Pokoknya, bahkan di dalam mimpi pun, gue nggak pernah terlalu yakin bisa peringkat tiga. Ah, Allah SWT memang Maha Baik :’)


Well, kembali ke masa kini.
Intinya, kebanggaan gue bahwa gue mendapat peringkat lima di semester lima mendadak pupus tatkala gue menatap nilai rapor gue yang turun!!

Crap. CRAP.

Argghh. Gue emang seneng gue bisa peringkat lima (walaupun peringkat gue turun daripada semester sebelumnya), tapi kan percuma kalau nilai-nilai gue turun :(

Kekecewaan gue pun bertambah-tambah lantaran salah satu sohib gue—Gledis—yang juga peringkat lima di kelasnya (kebetulan kelasnya tetanggaan sama kelas gue) nilainya jauh diatas gue.yang jelas, kalau aja Gledis adalah salah satu murid kelas gue, peringkat dua sudah tentu dicapainya!
dan kalau aja gue adalah murid di kelasnya, gue harus cukup puas dengan peringkat dua belas.
huhu miris amat.

Gue nggak iri—sumpah demi Allah! Siapa yang nggak seneng coba kalau punya sohib berprestasi?
tapi… yah, seperti yang lo tahu dan gue gembor-gemborkan daritadi : Gue disappointed sama diri sendiri.

btw, rata-rata nilai kelasnya emang lebih tinggi daripada kelas gue. What the H…?

Ah, mungkin ini gara-gara gue nggak bikin “Rapot Bohongan”.
Ah, mungkin ini gara-gara gue terlalu sombong sama pencapaian yang gue capai sebelumnya.
Ah, mungkin ini gara-gara gue kurang bersyukur sama nikmat yang udah Allah berikan selama ini.
Intinya, gue cukup kecewa.

argghhh. Mulai galau kannn :’(

Dan kekecawaan gue berbaur dengan rasa sedih tatkala gue tahu kalau salah satu sohib gue yang lain ada yang dapet peringkat 35.

Sumpah, gue nggak bohong, gue sedih.

di luar alasan-alasan nepotisme yang menyangkut jelaslah-gue-sedih-dia-kan-sahabat-gue, sekali pandang pun gue tahu dia bukan tipe anak yang malas (walaupun terkadang rasa malas memang muncul, tapi—hey—semua pelajar normal memang begitu kan?), dan gue tahu dia tipe pelajar yang berdedikasi :(

Gue sangat tahu kalau sebenarnya dia punya potensi yang melejit. Dan pantas mendapatkan yang jauh lebih baik.

Kalau sudah begini, gue nggak boleh nunjukin kekecewaan gue di depan dia. Gue yang peringkat lima aja udah kecewa, apalagi dia yang peringkatnya jauh dibawah gue! (yah, walaupun peringkat memang bukan segala-galanya, tapi setidaknya peringkat mampu menjadi tolok ukur—walaupun tidak terlalu objektif)

Bisa-bisa gue disangka sombong bukan main.

Huhu gue kan nggak bermaksud begitu :(

Hhhh. Bagaimanapun, gue—dan rekan-rekan gue—tetep harus bisa masuk PTN lewat SNMPTN 2013 (jalur undangan)!!

Harus!


Ah, udah dulu ya, gue mau mulai nyusun “Rapot Bohongan” dulu. Bye.

Kamis, 20 Desember 2012

Pengurus MOS Harus Mati


Judul            : Pengurus MOS Harus Mati
Pengarang     : Lexie Xu
Tahun terbit : 2011
Penerbit       : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Hal      : 304 halaman
Ukuran         : 13,5 x 20 cm
ISBN            : 978-979-22-6974-1


Guysss… pada kesempatan kali ini gue akan bahas teenlit Pengurus MOS Harus Mati (PMHM). FYI, Novel ini adalah novel kedua dari tetralogi Johan Series. Novel sebelumnya berjudul “Obsesi”.

Novel ini berkisah tentang seorang gadis SMA bernama Hanny Pelangi; cewek paling populer di SMA Persada Internasional.

Awalnya semuanya baik-baik saja. Hanny yang saat itu sedang berlibur di Singapura bersama sohibnya—Jenny, tiba-tiba menerima panggilan mendadak dari pacar barunya, Benji—sang ketua OSIS, agar segera pulang ke Jakarta karena dia—Hanny—terpilih sebagai salah satu pengurus MOS. Wow! Terpilih menjadi anggota tim elite dan mendapat kesempatan menyiksa murid-murid baru? Siapa yang tidak mau?

Nah, akhirnya, demi menyambut tawaran yang sangat langka tersebut, Hanny terbang ke Jakarta dan siap menerima mandat tersebut!

Namun, semuanya tidak seindah yang dibayangkan. Belum apa-apa, dia sudah diganggu seorang cowok menyebalkan yang pernah tidak naik kelas dan tampaknya sangat benci pada Hanny. Namanya Frankie.

Dan semuanya bertambah buruk ketika Benji mengajak anggota Pengurus MOS untuk mengarang cerita horor bohongan seputar sekolah mereka dengan maksud menakut-nakuti anak-anak baru yang masih cupu. Benji—si ketua OSIS yang gila hormat, bertekad akan membuat MOS kali ini menjadi MOS paling berkesan sepanjang masa dan dirinya akan diingat sebagai ketua OSIS dengan pencapaian paling sukses sepanjang sejarah sekolah.

Somehow, terciptalah 6 kisah horror yang berdarah-darah.

Tak disangka-sangka, kisah-kisah horor bohongan tersebut menjelma menjadi kenyataan!
Setelah kejadian kisah horor pertama yang menjadi kenyataan dan melibatkan beberapa nyawa murid MOS serta dua pengurus MOS—termasuk Hanny—yang hampir melayang, esok paginya, muncul sebuah tulisan misterius di dinding sekolah yang ditulis menggunakan darah:

Pengurus Mos Harus Mati!

Namun, apapun yang terjadi, tampaknya tekad para pengurus MOS lebih besar daripada rasa takut mereka akan teror yang ditimbulkan tulisan misterius tersebut! MOS tetap harus berlanjut! Cerita horor tetap harus dikumandangkan!!

Seolah takkan ada yang lebih buruk lagi, tiba-tiba satu demi satu para pengurus MOS mengalami kecelakaan mengerikan yang sulit untuk dijelaskan!—yang masing-masing sesuai dengan cerita bohongan yang dituturkan. Puncaknya, saat nyawa Hanny benar-benar nyaris melayang.

Jadi, apakah yang menyebabkan kecelakaan-kecelakaan aneh tersebut? Apakah benar bahwa kutukan kisah horor yang berbalik menimpa para pengurus MOS? Ataukah memang ada anak baru yang dendam pada mereka lantaran MOS yang begitu keterlaluan?

Faktanya, otak dari semua kejadian mengerikan tersebut adalah Johan. Mantan teman sekelas Hanny yang merupakan seorang psikopat. Johan berhasil kabur setelah sebelumnya dijebloskan ke rumah sakit jiwa oleh Jenny, Hanny, Tony, dan Markus (baca “Obsesi”), dan saat ini, dia menuntut pembalasan dendam.

Johan memang tidak terlibat langsung dalam kejadian-kejadian yang menimpa para pengurus MOS, tapi Johan selalu terlalu cerdas dan licik, dia menghasut dan menggerakkan orang lain untuk menjalankan pekerjaan-pekerjaan kotornya, seolah-olah mereka (orang-orang yang dimanfaatkan Johan) hanyalah pion-pion tak berharga yang bisa dikorbankan sewaktu-waktu.

Pada akhirnya, walaupun Hanny berhasil selamat dari maut yang mengintai, cerita tetap belum berakhir sampai disini. Karena teror Johan masih akan terus berlanjut.

Disamping sisi thriller yang disuguhkan dan suasana mencekam yang mengiringi, novel ini tidak meninggalkan ciri khas remajanya (berhubung ini novel teenlit); romance. Hanny-Frankie cukup berhasil bikin gue senyum-senyum sendiri—dan ngakak di waktu yang lain. Dan harus gue akui, gue suka banget gaya berceritanya Lexie Xu yang begitu hidup dan mengalir dengan cerdas. Dan pemikiran-pemikiran konyol si tokoh (dalam hal ini si Hanny, karena novel ini mengambil PoV orang utama pelaku utama) yang jujur dan apa adanya bikin gue menggelinjang nahan tawa.

At least, untuk sebuah novel yang berhasil bikin gue ngakak geli-geli sendiri di bab awal dan kemudian—crap—mendadak jadi nahan napas serta sukses bikin tangan gue jadi dingin saking tegangnya di bab selanjutnya, gue bener-bener ngasih A+ buat pengarangnya, LEXIE XU.

What a great novel, mbak Lexie :)

Rabu, 19 Desember 2012

Omen

Judul: Omen
Penulis: Lexie Xu
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetak: Pertama, September 2012
Tebal: 312 hlm
Bintang: 4/5
Okay guys, hows lifeeee?! :)

Well, lama nggak bahas buku (read: novel), kali ini gue pengen bahas salah satu novel teenlit favorit gue, yang judulnyaaaaaa…… (well, sebenernya lo bisa liat sendiri di atas)

OMEN karangan LEXIE XU

Yak, buat kalian yang ngerti bahasa inggris, pasti paham dong kalo Omen berarti ‘Pertanda’, tapi buat yang udah nonton The Omen, pasti mikirnya tentang horor. The Omen, sebuah film horor yang dirilis 6 Juni 2006 (the beast 666) adalah kisah tentang seorang anak laki-laki titisan setan bernama Damien yang bertujuan menghancurkan dunia. Intinya, film yang nggak ada unyu-unyunya dan dipenuhi adegan shocking yang bersimbah darah.
 
Buat yang belum pernah nonton dan ngebet pengen tau filmya, silahkan pergi ke rental dan pinjem kasetnya. 
Buat yang niat amat, lo tinggal pergi aja ke warnet terus download filmnya di youtube, tungguin deh sampe tarif warnet lo membengkak!
Buat yang nggak mau rugi, tinggal minta filmnya aja ke temen atau pinjem kasetnya ke temen.
Buat yang nggak mau capek? Yaudah lo duduk anteng aja terus tungguin tayang di bioskop TransTV.
Buat yang nggak suka nonton film tapi mau tau banget ceritanya?? Lo bayar aja temen lo goceng terus suruh dia ceritain kisahnya dari awal sampe habis! Ah sumpah lo kelewatan banget.

Okay, intinya kita bukan lagi mau bahas film The Omen tapi teenlit OMEN!!

Omen bercerita tentang seorang anak SMA bernama ERIKA. Erika memiliki adik kembar bernama ELIZA. Berbeda dengan kembar identik pada umumnya yang susah banget dibedainnya, Erika-Eliza justru gampang banget dibedainnya! Orang-orang malah banyak yang nggak percaya kalau mereka kembar!
Mereka jauh berbeda bukan dari segi tampang, tapi lantaran watak mereka yang kayak ying dan yang! Langit dan bumi! Meja dan kursi!

Intinya, watak mereka jomplang banget satu sama lain!

Eliza yang anggun, feminin, classy, ramah, baik hati, (konon katanya) lebih cantik, populer, disayang guru dan teman-teman, serta anak emas orang tuanya, berbanding terbalik dengan Erika yang tomboy, jago berantem, kasar, ke sekolah dengan dandangan gothic (eyeliner tebel dan lipstick coklat!), doyan ngelanggar peraturan sekolah, dibenci temen-temen dan guru serta nggak disukai sama keluarganya sendiri! Btw, Omen sendiri adalah julukan yang disematkan pada Erika sejak kecil oleh keluarganya sendiri. Satu-satunya yang bikin Erika tetap dipertahanin di sekolah adalah karena keyakinan para guru bahwa Erika dapat diperbaiki dan menjadi kebanggaan sekolah, pasalnya, senakal-nakalnya Erika, dia nggak bodoh! Dia punya ingatan fotografis yang luar biasa dan itu yang bikin dia selalu ranking 1 di kelas padahal gak pernah belajar dan doyan bolos!
 Well, cerita bermula dari empat tusukan pisau yang diterima Eliza.

Nyaris mati.

Dan semua tuduhan yang diarahkan pada Erika.

Bukan tanpa alasan.
sudah bukan rahasia umum kalau Erika sangat membenci saudara kembarnya itu. Ditambah lagi kenyataan bahwa Erika dan Eliza menyukai cowok yang sama—Ferly. Dan isu kalau Erika mencoba merebut kekasih Eliza tersebut.

Eliza dalam keadaan kritis di rumah sakit dan semua menuding bahwa Erikalah yang telah mencoba membunuh Eliza. Bahkan sahabat-sahabatnya sendiri pun beranggapan begitu. Pun orang tuanya (bahkan ibunya sendiri mengatakan bahwa Erika ‘omen’ lah yang lebih pantas nyaris terbunuh—bukan Eliza).

Erika tau dia memang punya sisi gelap; bahwa dia memang sangat membenci Eliza sampai-sampai rasanya dia ingin membunuh Eliza. terlebih setelah acara karyawisata sekolah yang mengundang seorang ilusionis dan kejadian hipnotis yang menimpa Erika diatas panggung, membuatnya selalu bermimpi tentang dirinya yang sedang membunuh Eliza. tapi dia juga sangat yakin bahwa bukan dia yang telah membuat saudara kembarnya tersebut sekarat—dengan empat tusukan dan rambut yang hampir terbabat habis.

Tapi kenyataan berkata lain. Kenyataan bahwa dia sendiri lupa—hal yang sangat jarang dilakukannya mengingat dia memiliki kemampuan fotografis—apa yang sedang dilakukannya pada saat kejadian berlangsung. Bahkan ibunya sendiri mengatakan Erika sama sekali tidak punya modus dan tanpa malu-malu menuduh Erika sebagai pelaku pembunuhan—di depan umum.

Belum lagi fakta lain bahwa, esok harinya, 3 sohib Erika yang semuanya laki-laki menunjukkan sebuah jaket hitam dengan pinggiran putih yang bernoda coklat tua—darah! Jaket yang diingat Erika telah digunakannya semalam—yang tiba-tiba hilang dari kamarnya. Sohib-sohibnya mengatakan bahwa semalam mereka melihat Erika mencoba menyembunyikan jaket tersebut!

Seyakin apapun Erika bahwa dia tidak mencoba mencelakai Eliza, namun apadaya semua bukti berkata lain. Akhirnya hanya dengan membawa barang bukti (baca: jaket) dan tas sekolah, dia kabur dari sekolah. Bersiap menjadi buron!

Dia tidak sendirian, karena ada ojek pribadi yang setia menemaninya kemanapun.

Dan saat itu, tak ada seorang pun yang sanggup dipercayainya—pun dirinya sendiri. Kecuali si tukang ojek bermuka masam. Suka atau tidak, sadar atau tidak, satu-satunya orang yang masih peduli padanya hanyalah si Ojek masam-tapi-suka-bikin-pipi-bersemu tersebut!

Jadi, intinya, ini adalah kisah buron Erika dan dibantu si tukang ojek keren (seriously, nama si tukang ojek tidak diketahui sampai seperempat akhir cerita) dalam mengungkap kasus percobaan pembunuhan Eliza.
Dan tanpa disangka-sangka, kasus ini ternyata menuntun mereka pada kasus-kasus sebelumnya—tentang orang-orang hilang di daerah mereka termasuk lenyapnya sepasang kekasih di sekolah Erika—dan kasus-kasus setelahnya—yang lagi-lagi percobaan pembunuhan yang melibatkan teman-temannya.

Dan mengapa hampir di setiap malam, Erika masih selalu dihantui mimpi hitam-putih tentang dirinya yang sedang menikam Eliza?

Pada akhirnya, apakah mereka mampu mengungkapkan siapa dalang dari semua kasus mengerikan tersebut? Apakah si ilusionis memang punya keterlibatan dalam hal ini? Atau apakah ada oknum lain yang mencoba menjebak Erika? Atau.. apakah memang sisi gelap Erika yang melakukannya? Lalu.. siapakah sebenarnya Valeria Guntur—gadis cupu misterius yang ternyata menyimpan banyak rahasia?

Ending yang unpredictable. Yang jelas, gak seru kalo gue spoiler disini :)

Yeah, buat cewek-cewek melankolis yang doyan romance sedih-sedih, jangan keburu patah semangat karena mengira novel ini hanya dipenuhi horror dan penyelidikan! Salah besar!
Novel ini komplet. Semacam masakan yang kaya racikan. Ada bumbu cinta, persahabatan, dan keluarga. Tapi tetep, bahan dasar utama dari masakan—yang merupakan konflik utama dari cerita—adalah dari sisi thriller nya. 

dan yang jelas, novel ini recomended banget buat pecinta novel detektif-detektifan!

Well, beberapa dari kalian pasti udah ngeluh,
“idih, pasti cinta-cintaannya sama si tukang ojek. Gak elit amat!”
upsss kalian emang nggak salah, berhubung tokoh utama si cowok emang si tukang ojek.

Tapi tenang, si tukang ojek ini tampangnya gak bikin pedih kok—ganteng dan tinggi tegap.
“huu biar ganteng kalo ngojeknya pake vespa, ya tetep aja!”
(ck ck buat kalian yang mikir gini dalam hati, istighfar deh. Menilai seseorang kan nggak boleh dari penampilannya aja. Duileeeeh dalem amat :p)

Okay, tenang guys, motornya Ninja! Dan Ninja bukan motor jelek. (ups, don’t get me wrong, bukan maksud gue kalo vespa itu nggak bagus ya. To be honest, menurut gue Vespa itu unik, otentik.)

Daaan, kalau masih ada yang kurang puas nih ya, gue akan kasih fakta yang bikin lo semua yang tadinya sarkastis jadi khilaf.

Si Ojek ini masih muda.

Terusss?

Dia anak pengusaha!! Dan masih kerabatan sama Ocean Coorporation, perusahaan konglomerat nomor 2 paling tajir se-indonesia.

Daaaaan….?

Nggak cuman bekal charming kemana-mana, pembawaan cool, dan tajir maksimal, dia juga SMART! (btw, dia sebenarnya calon mahasiswa Harvard University)
salah satu rekan orang tuanya yang sama-sama seorang pengusaha bahkan mengatakan bahwa si Ojek ini aka Victor Yamada adalah salah seorang anak muda paling berwawasan yang pernah dikenalnya!

Wow. Cowok di novel memang oke-oke.

Wow. Di dunia nyata kok nggak ada ya? Hehehe :D



Yeah, dan sebagai penutup, gue mau kasih 2 thumbs up buat pengarangnya! Terima kasih mbak Lexie Xu atas bukunya yang hebat. Ditunggu sekuelnya :)

Selasa, 11 Desember 2012

Aku (by Zenna Sabrina)


Aku embun, yang rela terhapus oleh tatap tajam matahari. 

Aku bulir-bulir hujan, meleburkan kepenatan lewat pori-pori kepalamu. 

Aku senja alexandria, yang membuat telapak kakimu lemas oleh kekaguman. 

Aku menara sudut kota, saksi para imigran yang haus akan kesejahteraan. 

Aku tinta dalam pena, yang menggoreskan diri demi curahan bait di pikiranmu. 

Aku adalah aku, yang mampu menjadi apapun.. 
kecuali penghuni sela jemarimu.

Don't Look Back



Kita berjalan bersisian. 
Dengan telapak tangan berpeluk jemari satu sama lain. 

Dengan bayangmu yang melebur dengan gelap bayangku. 

Dengan tautan doa di sela garis tanganmu, di sudut jari manisku. 


Lalu.. Lantas kenapa kau terus bertoleh ke belakang? 

Apakah ada sesuatu yang kau tinggalkan disana? 

Apakah ada yang kau sesalkan disana? 


Berhenti mencari-cari. It's there for a reason. 


Jadi, kalau kau cukup peduli, kalau kau cukup mau mengerti, mestinya kau tahu, satu-satunya yang perlu kau lakukan sekarang adalah fokus padaku. 


Dan masa depan yang terhampar dihadapan kita.

Minggu, 09 Desember 2012

a prayer
















Tuhanku... 
Bicaralah padaku bila aku kesepian. 
Bisikkanlah dukunganMu bila aku dirundung kecemasan. 
Dengarkanlah suaraku bila aku jatuh. 
Sudilah menjadi bagiku penghiburan dalam perjalanan. 
Tempat bernaung di waktu panas. 
Tempat berteduh di kala hujan. 
Tongkat penuntun dalam kelelahan. 
Dan penolong dalam bahaya. 
Semoga aku berhasil, mencapai tujuanku. Sekarang, dan juga nanti. 
Pada akhir hidupku.



(doa para peziarah dalam perjalanan menuju Santiado De Compostela)

Sabtu, 01 Desember 2012

7 Pelajaran Hidup



#1 : Jangan mencari penyembah-penyembah, tetapi carilah sahabat-sahabat sejati. Tidak semua teman diciptakan sama. Beberapa teman hanyalah penggemar. Mereka mengagumi kamu. Mereka menyanjung kamu. Mereka takut terhadapmu. Mereka mengambil keuntungan darimu. Namun, ketika kamu membutuhkan mereka, mereka tidak ada. Pilihlah sahabat sejati daripada penggemar. Ketika kamu mengalami kesulitan, mereka akan tetap berada di sisimu. 

#2 : Cara terbaik untuk mencari sahabat sejati adalah dengan menjadi seorang sahabat sejati. Apakah kamu seorang sahabat sejati? Apakah kamu memberikan perhatian kepada orang lain? Apakah kamu menunjukkan kasihmu terhadap mereka dengan cara yang tidak biasa? Investasi terbaik yang akan pernah kamu lakukan adalah di dalam pergaulan dan relasimu. Maka disitulah hartamu berada. 

#3 : Penggertak itu lemah. Hindari atau tantanglah, namun jangan pernah takut terhadap penggertak. Apakah kamu punya penggertak dalam hidupmu? Kamu akan selalu berhadapan dengan para penggertak. Mereka mengintimidasi orang. Mereka ingin kamu takut terhadap mereka. Mereka memanipulasimu untuk mengikuti mereka. Tergantung situasi, kamu dapat menghindari atau menantang mereka, karena setiap penggertak adalah palsu. Dengan paksaan, mereka menutupi kelemahan yang ada di dalam diri mereka, tapi jauh di dalam diri seorang penggertak, dia hanyalah seorang anak rapuh yang memiliki banyak ketakutan. 

#4 : Ketika seseorang tidak suka menjadi temanmu, biarkan saja dan tetap bersuka cita. Hidup terlalu indah disesali hanya karena penolakan seseorang. Orang yang selalu menyenangkan orang lain ingin menyenangkan setiap orang. Dan ketika seseorang menolak mereka, mereka akan tewas. Karena mereka memerlukan perasaan dibutuhkan. Ketika seseorang menolak mereka, mereka sangat terluka dan membawa luka ini kemanapun mereka pergi dan membiarkan luka ini berdampak bagi mereka selamanya. Apa yang dilakukan seorang yang dewasa ketika mereka mengalami penolakan? Mereka juga terluka sama seperti orang lain, namun mereka tidak membawa luka itu terus menerus. Mereka mengebaskan debu di kaki mereka dan terus maju. Mereka mencintai diri mereka. Mereka mencintai hidup. 

#5 : Ketika seseorang marah terhadapmu dengan cara yang tidak adil, kasihanilah orang itu. Ia akan menyakiti dirinya sendiri. Jangan mengasihani diri sendiri ketika kamu menerima kemarahan yang tidak adil. Ingatlah bahwa kemarahan yang tidak adil itu mengahancurkan orang yang marah, bukan kamu. Kasihanilah orang itu. 

#6 : Selalu bersikap baik dan ramah kepada setiap orang, entah dia itu seorang kaya atau seorang pengemis. Entah dia duduk diatas tahta atau terbaring di lumpur, tak ada bedanya. Orang tersebut adalah keluargamu. 

#7 : Takaran kamu yang sesungguhnya diukur dari keberanian, kearifan, dan cintamu. Apakah kamu seorang yang besar? Ukurlah keberanian dan kearifanmu. Dengan cara, kamu mengasihi, kamu bisa tahu apakah kamu sudah dewasa dalam hidup atau tidak. 

*sumber: BO Sanchez*