Jumat, 21 Desember 2012

21-12-12 : Antara Kiamat dan Bagi Rapot


Setelah terbukti kalau ramalan suku maya bahwa tanggal 12-12-12 adalah akhir dari dunia—yang muncul isu baru yang tidak kalah mendebarkan, bahwa tanggal 21-12-12 akan terjadi kegelapan total di Bumi selama tiga hari! Dan beberapa berpendapat bahwa pada tanggal itulah kiamat sebenarnya terjadi.

Well, beberapa hari yang lalu saat isu tersebut masih santer diperdengarkan, gue bukannya sok mau bilang kalau gue nggak khawatir sama sekali mentang-mentang tanggal segitu udah lewat and nothing happened, tapi faktanya gue emang nggak gitu-gitu amat sampe ngerasa kalau hal itu emang patut di super-khawatirkan. Maksud gue, yeah, walaupun yang bilang kalau tanggal 21-12-12 bakal terjadi gerhana matahari yang membuat kegelapan total di bumi emang bukan orang sembarangan alias memang orang yang ahli di bidangnya, gue tetep ngerasa kalau masih ada hal yang lebih penting yang patut dicemaskan diatas segala-galanya—rapot misalnya.

Ya, rapot.

Buat pelajar yang ngerasa-tidak-cukup-pintar-dan-sangat-khawatir-dengan-hasil-rapotnya, gue tahu lima huruf tersebut udah sudah cukup horror untuk diperdengarkan. Contoh keparnoan beberapa pelajar adalah dengan memutuskan untuk menyerahkan hak mengambil rapot kepada selain kedua orang tuanya (bukan berarti gue menjudge kalau semua murid yang diambilin rapotnya sama orang lain adalah pelajar yang-gue-jelaskan-dengan-banyak-garis-garis-seperti-ini-ya!)

Semalam, saat gue lagi di puncak kecemasan menghadapi hari H, tiba-tiba temen gue yang H-1 masuk sekolah dan sempet liat peringkat nilai di kelas ngabarin kalau gue peringkat lima besar! Gue panik saking girangnya dan gue mastiin kemana-mana kalau info temen gue itu bukan sekedar hoax!

Pokoknya gue seneng banget deh, sampe tanpa malu-malu gue loncat-loncat sambil teriak-teriak ke ibu gue di depan pintu kamar mandi (kebetulan pas itu ibu gue lagi mandiin adek gue yang masih kecil), seriously.

Oke, buat yang ngerasa dirinya jenius dan sekarang lagi ngeliat sinis blog ini sambil ngedumel dalam hati,
“idih, pasti ini anak bodoh—atau minimal nggak pernah ranking, sampe-sampe lima besar aja dibesar-besarkan alias lebay,”

ah, kalian kejam sekali *ngurut dada*. 
Oke, emang sih, gue emang nggak pernah ngerasa cukup pintar (bukan berarti gue ngerasa gue idiot, ya), tapi setidaknya, selama di SMA ini gue nggak pernah ngerasa nilai rapot gue kelewat mengecewakan—setidaknya buat gue sendiri.

Dari kelas satu SMA gue nggak pernah lepas 10 besar :)

buat yang ngerasa jenius dan rajin 3 besar, mungkin ini bukan apa-apa buat kalian. Tapi buat gue yang ngerasa otak gue pas-pasan buat survive diantara temen-temen gue yang rata-rata pada pinter, ini sebuah pencapaian.

Sepanjang kelas satu, dua semester berturut-turut gue peringkat 8.buat gue yang saat itu masih dilanda euphoria masuk SMA, gue hampir mati saking girangnya.

Puncaknya adalah gue masuk kelas IPA (batal dapet jaminan uang 100% dari Ganesha Operation nih, pffft) dan pada semester satu, gue bener-bener khawatir atas keselamatan nilai-nilai gue di rapot—khususnya fisika, oleh karenanya, gue sampe nazar bakal puasa satu bulan penuh kalau nilai fisika gue di rapot adalah Sembilan, dan puasa satu minggu kalau nilai gue delapan.

Thank God, saat pembagian rapot, ternyata nilai fisika gue delapan puluh pas!!!!
sumpah gue seneng banget! Alhamdulillaaaaaah :)
dan gue pun menjalani masa puasa nazar gue yang seminggu penuh itu dengan riang gembira :)

Pada kelas dua semester dua, gue bener-bener terobsesi untuk meningkatkan nilai-nilai gue—berhubung gue sangat mengincar jalur undangan ke universitas negeri (yang tiketnya adalah nilai rapot dari semester tiga sampai lima harus terus meningkat).
berhubung semester dua diawali di awal tahun baru 2012, maka tercetuslah RESOLUSI 2012!
untuk mendukung Resolusi 2012 gue yang intinya adalah meningkatkan nilai-nilai gue, gue membuat “Rapot Bohongan” yang isinya persis seperti kertas rapot sekolah gue. Gue buat daftar mata pelajaran gue sesuai dengan urutan di rapot semester satu dan gue buat berikut nilai-nilai yang gue targetkan. Tentunya dalam hal ini gue nggak sekedar mencantumkan nilai yang gue inginkan, tapi nilai yang gue rasa mampu gue capai kalau gue bener-bener mau berusaha.

Nilai-nilai pun gue susun (btw, “Rapot Bohongan” gue ditulis manual dengan font besar dan tinta spidol warna-warni).

Dan Rapot Bohongan gue pun terpajang manis di dinding kamar gue. Sengaja gue tempel se-strategis mungkin—di sisi dinding depan ranjang gue, sehingga kalau gue bangun dari tempat tidur ataupun beranjak tidur, mata gue akan langsung bersitubruk dengan rapot gue yang ditempel sejajar mata gue.

Sadar atau nggak, Rapot Bohongan sangat berjasa dalam kehidupan anak sekolahan gue.
Di saat-saat gue kehilangan semangat buat belajar dan sekolah, atau mungkin gue lagi sebel banget sama mata pelajaran tertentu berikut gurunya, mata gue akan langsung menangkap Rapot Bohongan gue, dan secara otomatis pikiran gue akan langsung kembali diduduk-maniskan pada target awal gue.

Gue harus masuk jalur undangan!!

Walaupun begitu, tetep aja kebiasaan buruk gue dari SMP dalam memghadapi ulangan tetep nggak berubah : SISTEM KEBUT SEMALAM!

Ah, ya, gue yakin bukan gue aja yang punya bad habbit kayak begini :p

Bagaimanapun, setiap menghadapi ulangan, gue tetep kelimpungan seperti biasa pada malam harinya. Tapi gue tetep merasa ada peningkatan—sekecil apapun. Misalnya dalam menghadapi mid semester yang soalnya essay (sebelumnya selalu multiple choice) yang dimana gue sangat sadar bahwa gue tidak bisa mengharapkan siapa-siapa kecuali diri gue sendiri (bukan berarti sebelumnya gue selalu ngarapin orang ya!), gue belajar dari selesai maghrib sampai lewat tengah malam! Puncaknya pada saat menghadapi ulangan fisika, gue belajar sampai jam 3 pagi!! (walaupun—yeah, jujur saja—banyak selingannya, hohoho. Mana mungkin otak gue mampu diforsir 8 jam penuh tanpa break padahal faktanya otak manusia memang tidak mampu berkonsentrasi penuh selama berjam-jam tanpa relaksasi setiap jeda 45 menitnya. Ah, gue emang ngeles, tapi btw, itu fakta kok, hehe)
sumpah, itu hal yang nggak pernah gue lakukan sebelumnya seumur hidup.

Oke, intinya, pas bagi rapot, gue dapet peringkat TIGA!!

Gue bangga bukan main!! Sebelumnya gue emang sempet hopeless mengingat temen-temen gue banyak yang pintar—yang berarti kompetisi semakin sulit dan gue nggak bisa mandang mereka hanya dengan sebelah mata (bisa-bisa malah mereka yang mandang gue sebelah mata!), namun kenyataan itu tidak berarti kalau gue melupakan target gue.

Dan akhirnya—gue ulangi sekali lagi—gue dapet ranking tiga! Dengan nilai terbaik sepanjang sejarah rapot gue di SMA!

Dengan nilai yang sama persis seperti RAPOT BOHONGAN gue!!

Luar biasa.

Dan tak lupa, ALHAMDULILLAH. Tentunya semua itu nggak akan terjadi tanpa sabotase tangan Tuhan :)

Ah pokoknya selama hampir seminggu, gue masih shock. Dan speechless. Dan menganggap semua adalah mukjizat atau mungkin kebetulan belaka (walau Ibu gue selalu bilang kalau tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini). Yeah, walaupun sebenarnya nilai Elektro lah yang berperan sangat besar dalam kedudukan rapor gue (big thanks to Mr. Mur!).
Pokoknya, bahkan di dalam mimpi pun, gue nggak pernah terlalu yakin bisa peringkat tiga. Ah, Allah SWT memang Maha Baik :’)


Well, kembali ke masa kini.
Intinya, kebanggaan gue bahwa gue mendapat peringkat lima di semester lima mendadak pupus tatkala gue menatap nilai rapor gue yang turun!!

Crap. CRAP.

Argghh. Gue emang seneng gue bisa peringkat lima (walaupun peringkat gue turun daripada semester sebelumnya), tapi kan percuma kalau nilai-nilai gue turun :(

Kekecewaan gue pun bertambah-tambah lantaran salah satu sohib gue—Gledis—yang juga peringkat lima di kelasnya (kebetulan kelasnya tetanggaan sama kelas gue) nilainya jauh diatas gue.yang jelas, kalau aja Gledis adalah salah satu murid kelas gue, peringkat dua sudah tentu dicapainya!
dan kalau aja gue adalah murid di kelasnya, gue harus cukup puas dengan peringkat dua belas.
huhu miris amat.

Gue nggak iri—sumpah demi Allah! Siapa yang nggak seneng coba kalau punya sohib berprestasi?
tapi… yah, seperti yang lo tahu dan gue gembor-gemborkan daritadi : Gue disappointed sama diri sendiri.

btw, rata-rata nilai kelasnya emang lebih tinggi daripada kelas gue. What the H…?

Ah, mungkin ini gara-gara gue nggak bikin “Rapot Bohongan”.
Ah, mungkin ini gara-gara gue terlalu sombong sama pencapaian yang gue capai sebelumnya.
Ah, mungkin ini gara-gara gue kurang bersyukur sama nikmat yang udah Allah berikan selama ini.
Intinya, gue cukup kecewa.

argghhh. Mulai galau kannn :’(

Dan kekecawaan gue berbaur dengan rasa sedih tatkala gue tahu kalau salah satu sohib gue yang lain ada yang dapet peringkat 35.

Sumpah, gue nggak bohong, gue sedih.

di luar alasan-alasan nepotisme yang menyangkut jelaslah-gue-sedih-dia-kan-sahabat-gue, sekali pandang pun gue tahu dia bukan tipe anak yang malas (walaupun terkadang rasa malas memang muncul, tapi—hey—semua pelajar normal memang begitu kan?), dan gue tahu dia tipe pelajar yang berdedikasi :(

Gue sangat tahu kalau sebenarnya dia punya potensi yang melejit. Dan pantas mendapatkan yang jauh lebih baik.

Kalau sudah begini, gue nggak boleh nunjukin kekecewaan gue di depan dia. Gue yang peringkat lima aja udah kecewa, apalagi dia yang peringkatnya jauh dibawah gue! (yah, walaupun peringkat memang bukan segala-galanya, tapi setidaknya peringkat mampu menjadi tolok ukur—walaupun tidak terlalu objektif)

Bisa-bisa gue disangka sombong bukan main.

Huhu gue kan nggak bermaksud begitu :(

Hhhh. Bagaimanapun, gue—dan rekan-rekan gue—tetep harus bisa masuk PTN lewat SNMPTN 2013 (jalur undangan)!!

Harus!


Ah, udah dulu ya, gue mau mulai nyusun “Rapot Bohongan” dulu. Bye.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar