Jumat, 11 Januari 2013

skut


Sebenernya ini postingan lanjutan dari postingan gue sebelumnya yang tentang lagunya taylor swift. Yak, tentang malam gue yang super bambung itu (sebenernya sih banyak tugas dan lalala, Cuma gue males aja). Jadi gue baca-baca goodreads aja buat bahan pertimbangan novel must-read atau must-have. Di salah satu review, gue liat ada orang yang disappointed berat sama sebuah novel yang ia beli karangan seorang selebtwit (so pasti heboh di twitter). Si cowok ini (red: the reviewer) bikin kesimpulan kalau jangan langsung percaya omong kosong di twitter yang suka lebay.

dan entah kenapa, gue juga jadi kepikiran buat nulis tentang salah satu novel “mengecewakan” di rak buku gue.

Okay, malam ini gue niat mau ngomongin SKUT (Surat Kecil Untuk Tuhan).



Yang penggemar beratnya cerita ini, silahkan angkat kaki dari blog ini.
ah, gue bercanda. Hehehe

tapi seriously, mungkin tulisan ini akan sedikit-banyak mengecewakan.

Jadi, gue beli ini novel udah dari jaman kapan tau. Gue beli pas filmnya masih baru tayang di bioskop. Gue tipe orang yang lebih suka baca bukunya dulu baru nonton filmnya (in case, film-film yang based-on-novel), misalnya Harry Potter, Twilight, negeri 5 menara, laskar pelangi, dll. So, gue belilah buku SKUT. (Toh dari semua orang, gue tau si keke bakalan KO di ending)

Gue liat sampulnya emang nggak cantik-cantik amat, gue beli yang edisi revisi gambar cewek botak meluk om-om (keke hugs his father). Covernya as white as snow dan ada embel-embel semacam iklan Chocolatos (yang bikin sampulnya keliatan creepy banget), dan kata-kata semacam “best seller! Telah dibaca lebih dari blablabla”. Yang jelas, kata-katanya meyakinkan banget dan sukses bikin ekspektasi gue melayang-layang di kahyangan.

Oke, gue baca.

Dari baca bab pembuka, gue udah nggak suka.
pertama, gue nggak suka lantaran bahasanya yang baku dan kaku. Dan entah kenapa, di awal cerita, gue ngerasa si Keke ini sosok Drama queen (plis, jangan tabok gue).
gue tau gue mulai terdengar menyebalkan. Yang mau close tab, silahkan close tab :’)

Tapi gue tetep harus lanjutt!

Selain gaya penulisannya yang kurang greget, alasan kedua adalah dialognya yang nggak oke.
terutama dialog antara andi dengan si keke yang.. aduh, gimana ya? Gue bingung jelasinnya. 
Gue kasih contoh percakapan garing aja, ya:

Rama : “Sinta sayang, Rama nggak suka kalau Sinta makan permen.”
Sinta : “huhu Rama jahat, Sinta mau putusin Rama aja.”

Gue lebih prefer yang :

Rama : “sayang, aku nggak suka kalau kamu makan permen.”
Sinta : “huhu kamu jahat. Aku mau putusin kamu aja.”

Got it?

Intinya, di bab kedua, gue mulai bosan. Gue sempat berpikir untuk menghentikan baca bukunya dan menerima tawaran temen gue untuk nonton SKUT bareng. Tapi gue tetap mencoba bertahan.

Di salah satu bagian, gue sempet ngerasa sesek di dada. Itu yang jelas pas adegan Ayah-Anak yang mengharukan. Gue mulai ngerasa novel ini worth-to-read. Gue lanjutin.

Berhenti di pertengahan novel dan gue belum menemukan sesuatu yang interesting lagi, terlalu flat. I Gave up. Gue letakkin buku ini dan nggak gue buka-buka lagi. Gue menolak semua tawaran nonton ini di bioskop. Bahkan sampai filmya tayang di layar kaca, gue Cuma nonton narasi awal aja.

Satu pelajaran yang gue ambil, “kalau mau hunting novel, lebih baik buka-buka goodreads dulu.” 
Agak nggak nyambung. Tapi gue serius.

Overall, gue kasih bintang 2. Selamat yah filmnya sukses besar! :DBuat dari segi cerita, novel ini memang termasuk novel sedih. Gue juga suka banget sama ide cerita yang based on true story ini, tapi yang disayangkan adalah gaya penulisan sang penulis. Menurut gue, cerita ini bagus hanya saja kurang digali secara mendalam dan.. yah, intinya, novel ini belum maksimal. #sosorrytosaythat

Untuk penulis atau siapapun yang terlibat dalam SKUT (real life-novel-movie), gue minta maaf yang sebesar-besarnya. Bukan maksud hati ingin menjatuhkan nama baik, honestly. Tentunya penilaian setiap orang terhadap suatu karya seseorang memang berbeda-beda kan? :)

Maaf dan terimakasih.


Wassalam.

Back to December


Ini malam yang bambung. 

Yeah, sebenarnya sih nggak juga. 
Dari awal gue udah planning kalo malam ini gue mau latihan nyanyi. Bukan, bukan karena gue mau manggung di inbox besok pagi, gue Cuma mau latihan buat ambil nilai praktek seni budaya besok pagi. Dan malam ini gue baru mau hafalin lagunya (baru mau hafalin!). gue pilih lagunya Taylor Swift yang buat Taylor Lautner itu tuh, pada tahu kan?



pertanyaannya, kenapa gue nggak hafal-hafal dan kenapa gue nggak milih lagu yang gue hafal aja?

hmm, dulu gue malesbangetdotcom kalo denger lagunya si blonde satu ini karena nadanya yang begitu mainstream dan suaranya yang just-so-so, gue cuman suka cakepnya (she’s so damn beautiful!) dan video clipnya—yang ngomong-ngomong modelnya ganteng-ganteng. that’s it. Tapi itu duluu. Dulu banget sebelum gue bener-bener dengerin lagunya dan perhatiin liriknya yang ternyata uh-so-touching itu.

Astaga, dan kenapa juga gue jadi ikut-ikutan excited pas temen gue ngomongin Taylor Swift? Oke, gue rela kok jadi swifties.

Dan, untuk menjawab pertanyaan sebelumnya.
Kenapa gue nggak milih lagu yang hafal aja?

yak, jawabannya karena gue mendadak jatuh cinta sama lagu ini pas iseng-iseng dengerin kemarin sore (soalnya dari jaman batu, temen-temen gue banyak yang ngotot ini salah satu lagu paling kerennya Swift), dan setelah gue ulang untuk keberapa kalinya secara intens sambil merhatiin liriknya, I just thought, “buset, ini lagu dalem amat.” Bittersweet. Dan gue secara spontan ngotot mau nyanyi lagu ini aja buat ambil nilai (sebenarnya gue pengen nyanyi lagu barunya One Direction “kiss you” tapi pasti bakalan garing banget kalo nggak pake alat musik—dan temen-temen gue gak ada yang tau chord gitar buat lagu yang masih tergolong baru banget itu).

Well, sebenarnya dalam postingan ini, gue lagi nggak pengen bahas lagu Taylor swift ini. Tapi mau apa lagi, udah terlanjur gini -_-

Yaudin ini lirik lagunya.
check it out.

"Back To December"

I'm so glad you made time to see me.
How's life? Tell me how's your family.
I haven't seen them in a while.
You've been good, busier than ever,
We small talk, work and the weather,
Your guard is up and I know why.
Because the last time you saw me
Is still burned in the back of your mind.
You gave me roses and I left them there to die.

So this is me swallowing my pride,
Standing in front of you saying, "I'm sorry for that night,"
And I go back to December all the time.
It turns out freedom ain't nothing but missing you.
Wishing I'd realized what I had when you were mine.
I'd go back to December, turn around and make it all right.
I go back to December all the time.

These days I haven't been sleeping,
Staying up, playing back myself leavin'.
When your birthday passed and I didn't call.
And I think about summer, all the beautiful times,
I watched you laughing from the passenger side.
Realized that I loved you in the fall.

And then the cold came, the dark days when fear crept into my mind
You gave me all your love and all I gave you was "Goodbye".

So this is me swallowing my pride
Standing in front of you saying, "I'm sorry for that night."
And I go back to December all the time.
It turns out freedom ain't nothing but missing you,
Wishing I'd realized what I had when you were mine.
I'd go back to December, turn around and change my own mind
I go back to December all the time.

I miss your tanned skin, your sweet smile,
So good to me, so right
And how you held me in your arms that September night --
The first time you ever saw me cry.

Maybe this is wishful thinking,
Probably mindless dreaming,
But if we loved again, I swear I'd love you right.

I'd go back in time and change it but I can't.
So if the chain is on your door I understand.

But this is me swallowing my pride
Standing in front of you saying, "I'm sorry for that night."
And I go back to December...
It turns out freedom ain't nothing but missing you,
Wishing I'd realize what I had when you were mine.
I'd go back to December, turn around and make it all right.
I'd go back to December, turn around and change my own mind

I go back to December all the time.
All the time.

Kamis, 03 Januari 2013

back to school arrgh..


Oke, pertama-tama gue ehem-ehem dulu. Yeah, ini post pertama gue di 2013. Agak telat, tapi.. Happy new year anyway.

Tidak seperti postingan tahun baru pada umumnya yang ngomongin resolusi, acara tahun baru, and the other such thing.

Gue lagi bĂȘte ini.
Pertama, karena gue salah potong rambut. Alhasil, rambut gue yang bagusnya gila-gilaan (iya, saking bagusnya kayak orang gila), lurus pasrah tanpa smoothing, yah pokoknya rambut yang bisa terbang-terbang kalo dikibas dan langsung rapi hanya dengan “Cuma disisir jari kok”, sekarang jadi jemba membahana.
Oke, gue bohong soal rambut awal gue yang dahsyat itu. Tapi gue serius tentang rambut gue yang langsung jemba berkat haircut yang nggak banget.

baikla, mari lupakan rambut gue yang sengak itu.
pindah ke topik lain.

Kedua, holiday is over. Arrghh. What a terrible—especially for me.

emang sih selama liburan, gue Cuma ngetem dirumah. Sambil selonjoran baca novel, nonton transTV sampe mata gue merah (ngomong-ngomong film liburannya emang paling top, terakhir gue nonton ASTROBOY tadi pagi sampe mata gue ileran—gue emang suka nangis sendiri kalo nonton kartun keren), nonton drama korea sampe gue hidung gue menitikkan air mata terus diketawai adek-adek gue, dan yang paling mutakhir adalah ongkang-angking kaki di Mall.

Sama sekali nggak berkesan. Totally.

Somehow gue tetap mengharamkan masuk sekolah tanggal 2 januari. It was Wednesday, tapi rasanya kayak Sunday. Itu sama aja kayak makan citato rasa kaos kaki. Yeah, emang separah itu.
oleh karenanya, gue memutuskan untuk tidak masuk.
pikiran gue, “halah palingan useless juga ke sekolah, anak-anak masih banyak yg belum pulang liburan, terus guru-gurunya juga masih pemanasan.”
jadi gue pun nggak masuk.

Besoknya—hari ini.

pagi-pagi buta gue buka twitter, tampaknya banyak juga yang udah mulai masuk sekolah. So, setelah spamming nanya-nanya di timeline “heh, sekolah gak hari ini?” dan mendapat beberapa koresponden yang menyatakan tidak masuk, gue memutuskan untuk nggak masuk juga. Lagian—hey, gue kan sekretarisnya. Mau apa lo?

Gue ngetweet, “oke, saya memutuskan untuk tidak masuk sekolah hari ini.”

Eh eh terus beberapa temen gue ada yang langsung replay tweet gue. Mereka mempersoalkan tugas kelompok Biologi yang konon bakal dipresentasiin hari ini. Uh-oh, gue lupa sama sekali ada biologi hari ini. Mereka maksa gue masuk demi kepentingan kelompok. Tapi matahari sudah mulai meninggi dan gue belum mandi—gue bakal telat ke sekolah, lagian juga setelah tweet gue diatas, gue nggak bisa dong tiba-tiba ngetweet lagi “sorry, I take it back. hehe” pake emot cengengesan. Emang gue cewek apaan. Gue bukan orang yang suka menarik kembali perkataan yang sudah dilontarkan. Gue kan nggak suka jilat ludah sendiri, emangnya gue kucing? Crap.

So, gue replay mention temen-temen gue dengan sangat bijaksana, “guys, kita kelompok 4. Biologi Cuma sejam hari ini. Kita nggak bakal maju hari ini. Trust me.”
tampaknya temen-temen gue cukup tenang. Mereka percaya aja sama gue berhubung gue adalah siswi-yang-cukup-berdedikasi-dan-sekretaris-andalan. Tapi tiba-tiba temen gue dari kelompok lain nyolot, “itu kan Cuma kelompok materi, sedangkan majunya berdasarkan undian. Kalian kelompok 4, tapi siapa tau nanti maju yang pertama.” rasanya gue pengen nyolok pake lidi tweet temen gue barusan, tapi berhubung itu tidak akan berdampak langsung dan hanya akan bikin screen gue tergores, gue memutuskan untuk tetap bersabar dan tawakal.
But still, berhubung gue takut tweet itu bakal berefek pada temen-temen kelompok gue dan alhasil mereka bakal balik maksa gue buat sekolah, gue nggak berani buka box mention dan gue cuek aja pura-pura udah exit. Gue buka timeline gue dan hapus beberapa tweet gue yang isinya eh-kamu-masuk-sekolah-hari-ini-? , bukannya apa, gue Cuma nggak suka aja baca timeline yang isinya tweet yang diduplicate berkali-kali (it’s like “justin bieber please  follback me. I love you. #1001”), dan itu pun berlaku juga untuk gue sendiri. Gue mau isi timeline gue hanya berisi hal-hal yang worth-to-read seperti, “guys, gue lagi makan maicih” or “maicih ternyata spicy juga ya guys” or “huhu gue nginap semalaman nih di toilet gara-gara maicih. Please culik gue” or “finally gue cebok juga. Kalo lo mau, ambil oleh-olehnya di kloset. For free”

Intinya, gue leha-leha di kamar sambil pelajarin materi presentasi biologi gue beserta lampiran-lampiran sumber datanya yang udah gue print. Gue bertekad bakal all out dan tampil mempesona nati pas tampil (tampil?)—semacam polwan-polwan cantik yang sering bacain berita lalu lintas di metroTV.
Yeah, meskipun gue malas masuk sekolah, bukan berarti gue bakal ngebiarin diri gue jadi bego beneran dan otak gue jadi berkarat lalu mulai mengeluarkan lengkingan seperti kaleng coca cola yang tergores—saking lamanya nggak dipakai.

trus hape gue bunyi, ada sms masuk dari temen gue yang bilang kalo :
Pak Nafik muji-muji hasil tugas wedding invitation gue didepan anak-anak. Ah, so sweet.
Pak Nafik bilang yang nggak masuk hari ini, nilainya bakal dikurangin 10!! What the h..?
Pak Nafik nyari-nyari gue dan menemukan bahwa gue—her favorite—nggak masuk! Bloodyhellbhvjdbvhcrapdhagshitbkpdamnhafjdyfuckhjagsdbkholycow.

Huaaa kalo gini caranya, gue jadi malu ketemu sama Pak Nafik di sekolah :’(


Ps: Oh ya, btw kalo ada yang penasaran sama konsep dan desain wedding invitation gue, gue bakalan posting itu kapan-kapan, semoga bisa menjadi inspirasi :)