Kamis, 04 April 2013

Pengagum Rahasia



Siang ini matahari bersinar begitu terik. Menyengat siapa saja yang menantang dibawahnya. Arogan? Ya. Tapi tanyalah siapa yang lebih arogan. Jawabnya kau.


Kau, dengan baju olahraga mu yang berpeluh keringat dan celana abu-abumu yang membungkus dua tungkai lincah. Sibuk berlarian kesana kemari. Menendang, meloncat, mengejar. Kau dan teman-teman lelakimu. Dan sebuah bola yang kalian rebut mati-matian.

Ah, kalau begini, rasanya aku ingin menyamar sebagai bola saja.
Aku, dengan kemeja putih dan rok panjang abu-abu duduk di pinggir lapangan. Di atas sebuah beton bercat hijau yang difungsikan sebagai kursi permanen. Di bawah rindang ketapang yang sedikit banyak melindungiku dari sergapan matahari. Aku dan teman-temanku. Mereka sedang mengoceh seru, entah apa topik yang sedang digaungkan. Mungkin tentang anak baru di kelas sosial yang ketampanannya sempat bikin geger di awal tahun ajaran itu. Entahlah. Sesekali, aku menimpali mereka dengan anggukan dan tawa hambar, tapi ekor mataku tak pernah lepas dari sosokmu disana. Kamu dan pesonamu.

“kamu lihat apa sih?” tanya seorang teman yang menyadari aku yang mencuri-curi pandang kearah lapangan.

Belum sempat aku menjawab, dia sudah menyambar lagi, “ooh, dia?”
temanku memutar badannya untuk menengok siapapun yang dia maksud. Dan aku, dengan seluruh perhatianku terpusat padamu.

“memang tampan sekali ya. Aku heran kenapa anak Medan itu tidak punya pacar sama sekali. Padahal banyak sekali yang bersedia. Aku contohnya. Dan kamu, barangkali.”

Aku terkekeh geli tanpa bersedia memberi komentar. Aku takut kalau temanku tahu bahwa kami tidak berada dibawah payung yang sama. Bahwa topik yang kami bicarakan masing-masing tidak berada di satu persimpangan. Aku tidak sedang membicarakan si anak Medan. Aku sedang membicarakan kamu.

“Padahal dia populer sekali ya..” timpal temanku yang lain.

Aku tertegun. Kau yang sedang kubicarakan juga populer. Saking populernya, kurasa aku bagimu adalah seperti titik embun di pagi terlambat yang hampir terik. Saat warna putih pekatnya sudah terlalu samar untuk bisa disebut embun, sehingga matahari dan pagi pun tak sadar bahwa ia sempat mampir. Persis.
Aku ingat beberapa kali kita pernah berpapasan. Kebetulan-kebetulan tidak sengaja yang kuanggap sebagai hadiah. Pertemuan di persimpangan tangga, koridor, lapangan, parkiran, acara sekolah..

Mungkin, bagi sebagian yang lain, ini hal sepele yang mudah dilupakan. Misalnya oleh kamu. Terutama kamu. Mungkin, sebagian yang lain akan berpikir ini hal remeh yang sering terjadi pada siapa saja. Bukan kebetulan yang patut diistimewakan. Bukan kejadian yang patut diingatkan.

Tapi sayangnya, hal seperti itu tidak berlaku di otakku. Aku suka hal-hal kecil dan kurang tertarik pada hal-hal besar. Aku mengingat hal-hal sederhana dan kurang terkesan hal-hal luar biasa. Mungkin, itu juga sebabnya mengapa pertemuan-pertemuan kecil kita terasa istimewa. Setidaknya, olehku.

“sayang sekali, permainan mereka sudah usai.”

Ah, gara-gara memikirkanmu, aku jadi melewatkan sepenggal momen nyata.
Aku mengangkat wajah. Menoleh kepada kamu yang bergerak meninggalkan lapangan. Rambutmu basah, dan sinar matahari membuatnya sempurna.
Jangan menoleh.. jangan menoleh.. biarkan aku menikmati pemandangan ini lebih lama.. biarkan aku menyimpan memori ini lebih la--
Aku cepat-cepat menundukkan wajah. Semburat merah jambu menjalar di pipi. Tersipu. Malu.Kaukah itu, yang sekejap tadi menatap bola mataku? Manik mata kaukah itu, yang sepandang tadi menghantam bayangku? Benar, itu kau. Milikmu.

aku menahan napas. Bahkan untuk sekedar bertatap pandang saja aku tak mampu..


nb : Tulisan ini aku dedikasikan kepada sahabatku, Pradita Amelia. Semoga ini memang kamu ya :)

1 komentar:

  1. halo, blogwalking :) nice short story :') bagus
    btw nama kita sama :P

    BalasHapus